Eksplorasi Teater dalam Berliterasi

Menurut saya, kegiatan literasi yang pantas diprioritaskan adalah kegiatan yang menjadikan masyarakat Indonesia peka dan mampu menganalisa lingkungan sekitar, mampu melahirkan individu-individu yang sarat karya atas informasi yang diterimanya, yang tak putus mengungkapkan gagasan-gagasan guna menumbuhkan budaya kompetisi dan iklim intelektualitas di Indonesia. Bukan semata memproduksi masyarakat yang gandrung membaca kemudian semata “pengikut” dengan keterbatasan analisa, ketidakmampuan berargumen apalagi menghasilkan karya yang memiliki ciri khas.

Pendapat tersebut saya kemukakan ketika berdiskusi dengan salah seorang pakar literasi di Indonesia yang merangsang sebuah pembicaraan diskursif dan kemudian menyeret saya pada pertanyaan: Apakah klimaks kegiatan literasi di Indonesia sebatas melek baca? Jika tidak, mengapa kegiatan literasi masih terkesan sekadar “ayo membaca”?

Literasi memang berawal dari kemampuan dan kesukaan terhadap baca-tulis. Mustahil membentuk masyarakat yang literet jika masih berjarak dengan dua kegiatan tersebut. Apalagi berdasarkan hasil penelitian PISA menunjukkan bahwa budaya literasi masyarakat Indonesia berada di peringkat 63 dari 65 negara. Akan tetapi jika merujuk kembali Deklarasi Praha tahun 2003 yang mengelompokkan literasi dalam empat tahapan (literasi dasar, kemampuan untuk meneliti dengan menggunakan referensi, kemampuan menggunakan media informasi, literasi teknologi, dan kemampuan mengapresiasi grafis dan teks visual) atau UNESCO yang mendefinisikan literasi sebagai proses pembelajaran seumur hidup, terlihat jelas bahwa literasi lebih dari sekadar membaca dan menulis. Literasi juga menyinggung bagaimana berkomunikasi dalam masyarakat yang bermakna praktik dalam hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya.

Tati D. Wardi, seorang pakar literasi dan sastra anak menyampaikan bahwa kita terfokus pada kegiatan baca-tulis-hitung bukan baca-kaji-hitung-nalar-kritis-tulis. Hal tersebut bisa dilihat salah satunya dari jumlah terbitan yang dihasilkan Indonesia setiap tahunnya. Kecenderungan, kegiatan-kegiatan yang dilakukan baik oleh lembaga pemerintah maupun non-pemerintah lebih berorientasi pada perubahan perlakuan terhadap bacaan dan minim bersentuhan langsung dengan aspek kreatif. Sebut saja yang paling baru, gerakan membaca 15 menit setiap hari yang digagas oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Masyarakat hanya digiring untuk lebih terbiasa membaca. Setelah masyarakat gandrung membaca dan menjadikan membaca sebagai kebutuhan, lalu apa? Apakah kegiatan literasi akan berhenti sampai di situ atau kemudian baru memikirkan berbagai model dan teknik lanjutan?

Lantas mengapa tidak mencoba memperkenalkan dan mempraktikkan baca-kaji-hitung-nalar-kritis-tulis sekaligus, terutama pada anak, sejak pertama kali literasi tersebut dilakukan? Sayangnya, kita terlihat asik berkutat pada pemberdayaan bahan bacaan, menumbuhkan minat baca, mengembangkan orientasi informasi tetapi lupa bagaimana membentuk kepekaan, analisa, dan kreativitas individu.

Kegiatan mendongeng, misalnya, yang merupakan salah satu teknik andalan berliterasi pada anak usia dini. Kegiatan mendongeng yang gencar disosialisasikan dan dipraktikkan sering kali dibatasi semata “bercerita” kemudian “mari membaca”. Padahal jika merujuk pada pendapat Walter Fisher dalam bukunya Human Communication as Naration (1987), komunikasi yang dibangun melalui dongeng tidak hanya sanggup mengusir “hantu-hantu” pengancam akal murni seorang anak. Akan tetapi mampu membentuk karakter, wawasan, dan kosmos secara kreatif pada diri narator dan pendengarnya sehingga tercipta sebuah evolusi kesadaran yang diciptakan melalui aktifitas berbahasa yang konstitutif.

Di Rumah Kreatif Naya perilaku literasi yang sudah dikombinasikan melalui eksplorasi teater mulai diperkenalkan. Digagas oleh Nermi Arya Silaban, cara ini memang masih sangat prematur untuk dikatakan sebagai sebuah teknik apalagi metode. Beranjak dari eksplorasi olah tubuh, olah vokal, olah rasa, dan olah intelektualitas, anak diperkenalkan pada diri sendiri dan sekitar sebelum menyeret mereka pada bacaan yang menarik. Untuk apa menumpuk anak-anak dengan berbagai bahan bacaan jika mereka hanya sekedar membaca.

Menumbuhkan minat baca terhadap anak (literasi tahap awal menurut Deklarasi Praha) tidak harus dimulai dengan “memperlihatkan” buku. Ketertarikan merupakan hal utama. Bagaimana mungkin menyukai apalagi mencintai sesuatu jika tertarik pun tidak? Ketertarikan yang dibangun di sini bukan ketertarikan pada media (buku) tetapi ketertarikan terhadap topik (materi). Hal pertama yang harus dilakukan melalui eksplorasi teater ini adalah komunikasi dua arah lewat kegiatan bertajuk mendongeng atau story telling, bukan serta merta memperkenalkan wujud bernama buku.

Mendongeng atau bercerita tidak melulu memosisikan anak sebatas pendengar dan penikmat, pun mengikutsertakan mereka secara aktif. Mendongeng dibarengi dengan berbagai bentuk permainan: tebak suara, tebak perilaku, permainan sebab-akibat, lomba bermain metafora, misalnya, secara tidak langsung merangsang imajinasi dan kemampuan intelektual anak dalam memahami dan menganalisa teks verbal dan non verbal. Tahap ini sangat mempertimbangkan sifat kanak-kanak yang gandrung bermain dan berkompetisi.

Karya merupakan salah satu bentuk luaran dari kegiatan literasi menggunakan eksplorasi teater ini. Karya di sini bisa berupa immaterial tetapi juga ditekankan dalam bentuk materil. Anak-anak didorong untuk mampu menuangkan pengetahuan yang telah diperoleh dari bacaan. Lukisan, puisi, cerita, opini, atau berbagi pengetahuan dalam bentuk lainnya sangat diharapkan dalam kegiatan ini. Melalui karya, anak akan terus belajar untuk mengasah dan mempertajam tidak hanya intelektualitas tetapi juga nalar dan sifat kritis.

Orang dewasa memang dituntut untuk meluangkan lebih banyak waktu bermain bersama anak-anak. Tidak diperlukan sesi khusus untuk mempraktikkannya, bisa kapan saja dan di mana saja. Kejelian dan sifat cepat-tanggap orang dewasa untuk melihat kemampuan anak sangat berperan penting dalam hal ini. Kepekaan merupakan kunci utama. Cara ini secara berkesinambungan selama enam bulan telah diterapkan pada rekan-rekan di Rumah Kreatif Naya. Hasilnya, mereka tidak hanya gemar membaca tetapi juga mampu menghasilkan karya yang original dan peka terhadap sekitar.

Literasi adalah istilah yang digunakan untuk merujuk sebuah kegiatan yang bertujuan membuat masyarakat menjadi cakap, tidak hanya pada pengetahuan tetapi juga lingkungan. Sudah saatnya kita berhenti membebankan anak dengan setumpuk bacaan, membiarkan mereka kecanduan. Literasi jika tidak dibarengi kemampuan untuk menganalisa, mereproduksi ulang, membagi pengetahuan maka semata ayo membaca, tidak lebih. Reader respone critism yang menjadikan pengalaman anak ketika membaca sebagai pusat dalam proses membaca itu sendiri perlu diolah oleh orang dewasa. Membaca tidak semata buku dan membaca itu sendiri.

2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s