Free the Word

Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan free the word dalam konteks berbahasa? Pertanyaan tersebut muncul karena kerap dijadikan alibi oleh para pengguna media sosial terhadap “keganjilan” berbahasa yang mereka lakoni. Seolah-olah free the word diartikan secara harfiah sebagai bentuk kebebasan individu dalam menggunakan bahasa. Penyingkatan kata, contohnya.

Di salah satu media sosial, saya jumpai tulisan: ya bgs dunk, kan jd meriah. Agp aj thn baruan tiap hri. Secara struktur dan kaidah berbahasa, kalimat tersebut sudah menyalahi, terlepas pembaca menangkap maksud yang disampaikan oleh penulis. Tetapi apakah kemudian kita bisa mengatasnamakan free the word untuk tindakan tersebut?

Free the Word awalnya merupakan Festival tahunan yang digagas sejak 2008 di London. Kegiatan ini memberi kesempatan kepada penulis dan penikmat sastra di seluruh dunia untuk berekspresi lewat karya sastra dan seni. Dalam teks, free the word merujuk pada “kesewenangan” yang dimiliki penyair dalam menggunakan bahasa untuk karyanya. Lalu bagaimana dengan “keganjilan-keganjilan” melalui media sosial?

Mari kita tarik fenemona tersebut melalui pepatah juga pendapat Sapir dan worf: bahasa merupakan cerminan budaya. Terdapat hal-hal dari bahasa yang digunakan sebagai tolak ukur kemajuan sebuah kebudayaan, seperti perbendaharaan kata maupun format cara tutur. Kita ambil bahasa Cina sebagai bahan perbandingan.

Satu huruf dalam bahasa Cina bisa dikatakan memiliki makna hampir sama dengan satu kata dalam bahasa Indonesia, sehingga untuk menyatakan cinta cukup membutuhkan tiga huruf, sedangkan kita memerlukan 14 huruf. Ketika pelafalan, orang Cina tentu akan lebih dahulu merampungkan pesan yang ingin disampaikan dibandingkan kita yang baru mengucapkan “Aku cin…”.

Hal ini barangkali sesuai dengan budaya di Cina yang menggunakan waktu secara efektif dan tidak suka berlalai-lalai. Tidak seperti kita, waktu yang sangat elastis dan suka menunda-nunda banyak hal.

Contoh lainnya ketika membaca teks, baik di media sosial ataupun karya ilmiah. Ditemukan banyak kesalahan yang (ironisnya) ketika diberitahukan, si penulis sering berkilah, Ah, itu kan cuma bahasa. Lalu apakah boleh saya menengarai kesalahan itu sebagai cerminan budaya kita yang abai terhadap banyak hal?

Kita tidak peduli dengan sampah yang berserakan, sungai-sungai yang kotor, lalulintas yang semerawut, kurikulum yang berubah-ubah, pembelajaran yang “sesuka hati saya”, peraturan (apapun) yang sering dilanggar serta bentuk-bentuk lainnya. Sehingga menjadi sangat wajar bila kita juga kurang peduli terhadap bahasa Indonesia. Jika ada yang mempermasalahkannya, maka sebagian kita berkomentar dan berdalih serampangan. Tidak jarang mencibir sembari berkata, Itu kok dibahas?.

Kita melakukan kesalahan dikarenakan menganggap remeh sesuatu, begitu juga halnya berbahasa. Kesalahan dalam berbahasa Indonesia terjadi karena kita menganggap Bahasa Indonesia itu mudah dan tidak perlu dipelajari secara serius. Bahasa Indonesia adalah bahasa kita. Tapi tidak semua orang Minangkabau pandai memasak randang, bukan? Sehingga memasak rendang bukanlah pekerjaan yang mudah dan patut dianggap enteng. Jadi mari kita benahi cara kita berbahasa agar mampu mencerminkan perkembangan peradaban kita sebagai pemilik bangsa dan bahasa, melalui media sosial sekalipun. Tidak semata menggunakan istilah sebagai pembenaran.

2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s