Hidup Itu Perkara Resiko, Bukan Jaminan

 

Hidup hanya membuat kesimpulan setelah itu,selamat tinggal!”

Seringkali, kita merasa terkotak-kotak oleh masa lalu, sehingga cemas dan takut untuk menghadapi esok. Pengalaman disakiti, pengalaman ditinggalkan, pengalaman diabaikan,pengelaman ditindas dan diintimidasi, pengalaman disiksa entah itu fisik atau psikologis, pelecahan seksual, pemerkosaan, ditipu, dianiaya, apa pun itu,tidak jarang membuat kita gamang untuk menentukan apa yang akan kita lakukan setelahnya. Masa lalu seakan mengkungkung dan memenjarakan kehendak serta cita-cita yang teramat ingin untuk disampaikan bahkan diwujudkan.

Saya takut gagal, saya takut mengecewakan, saya takut berbuat salah, saya takut sakit,semua tentang ketakutan dan kecemasan.

Saya masih ingat sebuah film superhero berjudul Green Latern. Sumber kekuatan adalah kehendak, apa yang kamu tampilkan dan hadirkan ialah apa yang kamu pikirkan,apa yang dikehendaki. Dan ketika kamu dikuasai oleh rasa takut, maka disitulah letak kelemahan terbesarmu. Kamu tidak akan pernah bisa melakukan apa pun,tidak akan pernah menjadi apa-apa.

Benar bukan?Kelemahan terbesar adalah rasa takut. Padahal rasa takut itu bukan apa-apa awalnya. Ia hanya sesuatu yang tanpa disengaja tercipta entah itu oleh pengalaman empiris atau verbal. Kita yang secara tidak sadar kemudian memahbiakannya di dalam hidup.

Apa yang harus ditakuti?

Orang tua?

Bahkan harimau pun tidak akan pernah memakan anaknya sendiri.

Orang tua selalu menginginkan yang terbaik buat masa depan anak-anak mereka, tapi yang tahu persis apa yang terbaik untuk anak, adalah diri sendiri.

Ya, barangkali untuk sementara waktu kita akan diposisikan sebagai anak yang teramat durhaka, anak yang tidak bisa menghargai dan membalas kebaikan orang tua, tapi lupakah bahwa orang tua mencintai bukan karena apa yang telah diberikan anak kepadanya,tapi orang tua mencintai sebab mereka ingin mencintai. Percayalah, orang tua pun memiliki banyak sekali pemakluman dan maaf bagi anak-anak mereka.

Kecemasan untuk menyakiti, mempermalukan atau mendurhakai orangtua hanyalah hal lain yang membuat kamu terlihat semakin bodoh. Lakukan saja, mereka pasti mengerti.Bahkan jika harus meninggalkan mereka sekali pun. Cinta bukan tentang fisik,jadi meskipun orang tua dan anak berada dalam jarak yang tak terhingga, mereka pasti akan selalu mendoakan yang terbaik.

Dan tidak usah mencemaskan mereka. Mereka telah terlebih dahulu menjalani dan menikmati kehidupan. Mereka pasti bisa bertahan tanpa anak-anak di dekat mereka. Mereka akan baik-baik saja. Mereka adalah manusia-manusia yang paling bijaksana.

Orang-orang di sekitarmu?

Boleh saya katakan, persetan dengan mereka semua. Ini hidupmu, bukan mereka. Apa yang bisa mereka lakukan ketika kamu terpuruk, ketika kamu gagal, ketika kamu melakukan kesalahan? Menertawai, mengejek, menghujat? Maka buang dan coret sajalah orang-orang seperti itu dalam kehidupan. Mereka hanyalah kesengsaraan-kesengsaraan yang seringkali datang dalam rupa yang elegan, cerdas, pintar, manis, berkedudukan,berjabatan. Persetan dengan mereka semua. Ini hidupmu, bukan hidup mereka. Manusia tidak bisa sepenuhnya memaksakan kehendak. Tidak bisa membuat orang lain menjadi identik.  Lalu apa yang harus dicemaskan? Takut kehilangan jabatan, identitas, pekerjaan, kedudukan.

Tujuan akhir manusia adalah kebahagian.

Jika semua identttas, jabatan, pekerjaan hanya akan mengikat pada wilayah abu-abu, buat apa dipertahankan. Seringkali manusia lebih mementingkan nama baik,wibawa, pekerjaan, kedudukan, jabatan dibanding esensi dari kehidupan itusendiri. Apakah pekerjaan dan kedudukan itu akan kamu bawa mati? Tidak bukan.

Hidup itu hanya satu kali, jadi mengapa tidak dinikmati? Dan kebahagian itu dinilai bukan dari materi.

Saya naïf? Silahkan jika itu penilaian anda. Saya tidak mengatakan bahwa pekerjaan,materi atau apa pun itu, yang menjadikan manusia seringkali terkunci oleh rutinitas dan sistem yang menjemukan,  tidak penting. Tapi kebanyakan dari kita menjadikan mereka sebagai dewa. Sehingga apa pun yang akan dilakukan harus berorientasi pada identitas dan materi tadi.

Kita seringkali teramat takut pada orang lain dan lingkungan. Sedangkan Tuhan yang membuatmu menjadi ada saja sedemikin fleksibel dan penuh dengan pengertian,lalu mengapa orang lain menjadi momok?.

Saya ingat sebuah iklan, ketika kamu membuat pilihan yang salah, maka kau akan menemukan sebuah kebenaran. Ketika kamu melakukan pilihan yang benar, maka kamu akan dihadiahi dengan pengalaman.

See, hidup itu sempurna bukan?

Jangan takut untuk salah. Tidak ada manusia yang sepenuhnya benar, pun tidak ada manusia yang sepenuhnya salah. Salah dan benar itu nilai, dan nilai diciptakan oleh manusia. Nilai menyangkut kepentingan. Nilai antara satu individu denganyang lain berbeda-beda, antara satu kelompok dengan kelompok lain tidak pernah sama. Jadi mengapa kita terpaku pada nilai salah dan benar yang dilontarkan oleh satu atau dua orang.

Hukuman sosial?

Ituada, mutlak ada. Namanya juga mahkluk sosial. Tapi seberapa hebat kamu bisa menjadi tangguh ketika hukuman sosial itu mendera? Itu tidak akan membunuhmu jika kamu yakin pada pilihamu.

Mengapa cemas akan menerima hukuman social. Manusia itu pelupa. Barangkali saat ini mereka akan mengingat dengan persis, apa yang menurut mereka, sebagai sebuah bentuk kegagalan dan kesalahan, tapi setelah itu barangkali nama pun mereka tidak ingat. Jangan takut pada hukuman social.

Hukuman social hanyalah sejenis alat evaluasi yang sifatnya sangat kontekstual. Itu perlu untuk mengingatkan pada tujuan. Jika mendapat hukuman social, cukup jalani saja. Bukankah hukuman social itu menjadi bukan apa-apa tatkala setiap detik yang dijalani adalah sebuah keputusan yang dianggap benar?.

Budaya?

Huuft,ingat Marah Roesli? Beliau memilih untuk meninggalkan kampong halaman dan menikah dengan perempuan pilihannya sebab sudah merasa tidak bersesuain lagi dengan adat istiadat dan budaya yang diacu oleh leluhur.

Budaya produk manusia, budaya diadakan untuk bisa bertahan hidup. Lalu ketika budaya,entah itu adat-istiadat, nilai, kepercayaan menjadi tidak sejalan lagi denganapa yang diyakini, untuk apa dipertahankan lalu asik berkutat di dalamnya. Berhentilah menjadi individu-individu yang penuh dengan topeng. Mencoba untuk memunculkan sosok yang paling sempurna menurut tatanan social, tapi di dalamnya teramat berantakan. Buat apa?.

Seorang terdekat saya mengatakan;

Hidup itu resiko, bukan jaminan, jadi bangunlah otonom dirimu mulai dari sekarang.

Ketika masa lalu menjadi sebuah kecemasan, cukup teliti—lebih teliti. Sebab tidak ada cara untuk membuat diri lari dari masa lalu. Akan tetapi dengan menjaga apa yang ada sekarang, merupakan langkah kecil yang sudah dilakukan untuk sesuatu yang besar, kelak.

Berhentilah untuk membuka ruang yang sudah tak ingin lagi sesuangguhnya untuk dilihat.

Kita menjadi individu yang sama, pribadi yang sama dengan yang sebelumnya jika masih saja berkutat dengan masa lalu. Cukup belajarlah menjadi lebih tangguh, berani,dan bertekad penuh untuk menetukan pilihan. Jika A, maka lakukan A; jika B,maka lakukan B. kegagalan, keterpurukan tidak akan menjadi mesin pembunuh. Barangkali hanya akan meninggalkan sedikit lagi carut luka di kepala, dijantung, atau di hati.

Esok penuh dengan luka, kesialan,keterpurukkan, kegagalan,kejatuhan, tetapi jika kita meyakini apa yang akan dilakukan, maka segalanya hanya akan menjadi bahan tertawaan, kelak.

 

Berhenti mengeluh, berbenahlah. Ambillah ranselmu lalu sejumput keberanian yang barangkali kamu simpan di bawah lemari, di bawah tempat tidur, atau di tempat paling tersembunyi di dunia ini. Telfon dan datangilah orang-orang yang masih menyisakan ngilu dari masa lalu. Bukan, bukan untuk marah-marah atau mencaci-maki.

Cukup katakan: 

terimakasih sudah pernah hadir dalam hidupku,sebab tanpa ada kamu hidupku tidak akan lebih indah dari hari ini.

Pasangheadsetmu, putarlah lagu kesukaan. Lalu ambil sepedamu, dan kayuhlah sejauh yang kamu mampu. Barangkali kamu akan menemukan sebuah stasiun yang akan membawamu ke suatu tempat yang-entah. Bisa jadi sempurna, bisa jadi mengerikan.Tapi itulah hidup, tentang berani menetukan pilihan.

Dan orangtuamu. Percayalah, kelak mereka akan mengerti tentang pilihan yang telah kamu jalani. Dan yakinlah, bahwa tangan mereka akan selalu terbuka menerimamu kembali pulang. Sebab cinta bukan tentang raga.

Beranilah.

Cukup putuskan dan lakukan.

Esok adalah resiko dengan segala kemungkinan.

Hidup itu resiko, bukan jaminan!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s