Ketika Naya Belajar Mencintai Buku

Naya, barangkali hanya salah satu dari anak-anak yang menjadikan buku sebagai teman baik. Banyak kebiasaan Naya, yang saya sendiri ketika kecil tidak memilikinya. Terus terang, saya cemburu. Ketika bangun di pagi hari, maka ia akan segera memilih salah satu dari koleksinya untuk dibaca sembari bermalas-malasan. Atau ketika saya ajak jalan-jalan, di waktu senggang dia tanpa malu-malu membuka tas, mengeluarkan buku dan asik membaca. Menjelang tidur, dongeng dari saya tidak lagi menjadi sebuah rutinitas dan kebutuhan kecil. Ia akan memilih bacaan kesukaannya hingga tertidur lelap. Saya sendiri sebagai Ibu, seringkali terpesona dan alih-alih nyaris tak percaya dengan perubahan Naya.

Setahun lalu tepatnya Oktober 2014, ketika pertama kali sampai di kota Bandung, Naya seperti sebagian besar anak dari seorang perempuan single parent yang bekerja di luar rumah. Apalagi jika bukan gadget dan televisi yang menjadi pengalih perhatian. Untuk “membungkam” kerewelan Naya, saya menghadiahi Naya dengan chanel anak-anak atau sebuah gadget lengkap dengan berbagai permainan. Hasilnya? tentu saja saya lebih punya waktu dengan segala kesibukan saya tanpa diberondong oleh pertanyaan bahkan juga rengekan dari seorang bocah 5 tahun. Malah tidak jarang ketika saya merasa lelah untuk membacakan satu saja cerita menjelang tidur atau pikiran yang kusut karena rutinitas siang hari, saya membiarkan Naya hingga pulas di depan tivi atau gadgetnya. terlambat untuk menyadarinya? tentu saja. Tapi itu lebih baik ketimbang saya membiarkan rutinitas itu merajalela hingga Naya beranjak dewasa. Bukan hanya waktu saya bersama dia yang akan lenyap begitu saja, tetapi juga saya menjadi punya andil besar dalam proses degradasi kulitas hidup Naya.

Sesampai di Bandung, saya mulai membenahi itu semua. Sulit? tentu saja. tapi hanya di awal. Sikap tegas dan konsisten sangat dibutuhkan. Kami mulai mendiskusikan aturan-aturan baru yang berlaku bagi semua anggota. Tidak boleh ada gadget ketika Naya masih melek, yang artinya aktifitas elektronik dibatasi hingga waktu tertentu. Dan yang paling berat dari semua yakni ketika ada aturan pesawat televisi hanya boleh menyala pada hari sabtu dan minggu mulai pukul 10 pagi, atau jika Naya sudah lelap, dengan syarat: tidak diperkenankan memutar chanel Indonesia atau Chanel khusus film anak-anak.

Apa yang Naya dan saya lakukan untuk mengisi waktu? Saya mulai menyediakan Naya alat gambar. Awalnya memang sulit. Adu argumen yang berakhir dengan rengekan manja sesuatu yang tidak bisa dihindari. Tetapi aturannya: tidak ada tivi, kecuali sabtu dan minggu. Perlahan, Naya mulai terbiasa dengan aturan tersebut (pun termasuk saya). Saya menyisihkan waktu 15 menit tiap hari menjelang tidur untuk melatih Naya membaca (Naya baru tahu huruf tanpa paham cara menyambung atau menggabungkannya).

Dua minggu berikut, Naya menunjukkan kemajuan dalam aktifitas membaca. Saya membawanya ke toko buku dan memilih bahan bacaan yang diinginkannya. Seorang anak perempuan usia 5 tahun tentu saja princes-princessan produk Disney menjadi suatu hal yang tidak bisa ditolak. Mulai dari Snow White hingga Rapunzel memenuhi rak buku di kamar kecil kami. Entah itu majalah, buku cerita bergambar, atau buku mewarnai, semuanya bertema sama: Disney Princess. Hingga saya melihat tidak ada pelajaran yang bisa diambil Naya selain kesenangan dan hobi belaka. Lagipula semua tokoh-tokoh Disney memiliki karakter dan cerita yang relatif sama: impian hidup enak di istana karena keajaiban. Jadi apa Naya kelak jika dia terus-terusan dininabobokan oleh bacaan semacam itu, pikir saya.

Langkah yang saya tempuh yakni mencoba menggeser segala sesuatu mengenai Princess dengan komik. Pertanyaan kemudian, komik apa? Saya memutuskan memilih komik Doraemon dan Detektif Conan.  Akhirnya, rak-rak buku kami pun dipenuhi dengan koleksi komik. Bahkan Naya mulai menabung sebagian dari uang belanjanya untuk membeli komik bekas di dekat gerbang UNPAD Jatinangor seharga lima ribu rupiah per buku.

Saya menghadiahi Naya sebuah tas kecil yang bisa dimuati oleh sebuah komik dan botol minum. Setiap kali bepergian, Naya akan mengisi tas kecilnya dengan salah satu komik terbaru miliknya. Naya akan membaca di mana pun ada kesempatan. Perubahan Naya yang demikian sungguh sangat membanggakan bagi saya. Seuatu yang barangkali tidak dimiliki oleh banyak anak-anak seumurannya.

Lalu apa buku kesukaan Naya akhir-akhir ini? Naya mulai mengoleksi dan membaca berbagai jenis ensiklopedia untuk anak. Mulai dari ensiklopedia tubuh, tumbuhan, hingga luar angkasa. Hingga sekarang, kami terutama Naya mulai terbebas dari pesawat televisi. Naya menjadi suka membaca, menggambar, dan saya sudah mulai mengumpulkan puluhan tulisannya, hasil dari pembacaannya terhadap koleksi buku miliknya dan sekitar.

Tidak susah ternyata membiasakan anak dengan buku dan membaca. Formulanya hanya: tegas, tega, dan kejutan-kejutan kecil. itu saja.

selamat mencoba.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s