Keluarga dan Praktik Emerging Literacy*

Diskusi singkat saya dengan salah seorang pengagas dan penggiat komunitas Tanah Ombak, Yusrizal KW, menyisakan banyak pekerjaan rumah perihal kegiatan literasi, khususnya pada anak. Terlebih sebuah pernyataan menarik dari tokoh, yang telah berhasil membawa Tanah Ombak tidak hanya menjadi juara pertama Gramedia Reading Community Competition 2016 regional Sumatera, tetapi juga pioner gerakan literasi di Sumatera Barat; ‘Kami tidak sedang menanam bayam, tetapi menanam pohon jati.’ Hingga di situ, simpulan saya, literasi bukan perkara mudah. Perlu partisipasi aktif semua pihak dan bersifat kontiniuitas. Akan tetapi, siapakah yang paling bertanggungjawab untuk hal demikian?

Hasil dari banyak penelitian dan survey bertajuk literasi sering memosisikan Indonesia pada peringkat bawah, bahkan tidak mencapai standar literasi internasional yang berada pada angka 500, sebut saja penelitian yang dilakukan PISA, PIRLS, ERGA, maupun Unesco. Meski indikator penelitian, diakui seringkali tidak memiliki korelasi dengan hakikat literasi. Lebih-lebih, juga tidak dilakukan dengan standar dan indikator yang memerhatikan aspek-aspek yang bersifat lokalitas. Misal, bagaimana seharusnya emerging literacy pada wilayah-wilayah di timur Indonesia yang jangankan bacaan, infrastruktur pun belum memadai, atau aspek budaya tutur sebagian besar masyarakat Indonesia yang sangat kental, anehnya banyak yang suka, sekali pun membaca hasil penelitian semacam itu menyakitkan. Layaknya cerita dalam film Korea, meski berakhir menyedihkan, tetapi tidak sedikit menyedot perhatian penonton hingga tergila-gila. Lantas, literasi seperti apa yang sebaiknya diterapkan di Indonesia yang masyarakatnya sangat heterogen ini?

Literasi bukan hanya perkara baca-tulis-hitung, itu hal pertama yang harus diluruskan pada persepsi banyak penggiat literasi maupun masyarakat. Meskipun basic literation menurut deklarasi Praha memang menyangkut kemampuan mengenal dan membaca sumber pengetahuan. Akan tetapi praktiknya, literasi tidak bisa dipilah-pilah bertingkat secara gamblang seperti demikian. Literasi menyangkut banyak aspek, dan salah satunya baca-tulis, yang kemudian mesti dikembangkan menjadi baca-kaji-hitung-nalar-kritis-tulis-dan komunikatif. Standar kompetensi literasi tersebut, tidak bisa tidak, memang hanya bisa diperoleh dengan diawali kecakapan membaca lantas menulis. Hanya saja, satu hal yang sering terlupakan, orang tua gencar memaksa anak mereka untuk cakap membaca. Akan tetapi lupa menunjukkan pada mereka bagaimana mnceintai membaca lantas memulai untuk menulis.

Di lain hal, kita juga tidak bisa semena-mena menarik perbandingan tingkat baca-tulis masyarakat Indonesia dengan bangsa-bangsa di Eropa. Terdapat jurang sejarah berjarak ratusan tahun antara tradisi membaca masyarakat di negara maju dengan Indonesia. Bayangkan saja, ketika bangsa-bangsa Eropa mulai gencar menanamkan tradisi baca lewat peran gerejawan hingga masa Renaisance, nenek moyang kita masih terlena dengan kejayaan kerajaan Majapahit dan bisa dikatakan belum mengenal, jangankan tradisi membaca, bahkan buku. Tetapi kemudian, tidak juga bisa dijadikan sebuah pembenaran.

Literasi mengenal istilah emerging literacy, yang bisa diartikan secara bebas sebagai literasi dini. Kesalahkaprahan banyak ditemukan dalam menafsir istilah tersebut, khususnya di Indonesia. Emerging literacy merupakan tahap awal dalam gerakan literasi yang menyangkut pengetahuan anak tidak hanya mengenai baca-tulis teks. Akan tetapi, emerging literacy lebih ditarik pada kegiatan mengenalkan anak pada baca-tulis-hitung. Akibatnya, les membaca dan berhitung menjamur, taman kanak-kanak mulai mengajarkan baca-tulis-hitung, bahkan untuk masuk sekolah dasar pun anak-anak harus memiliki kemampuan tersebut sebagai syarat mutlak. Hal yang sesungguhnya jauh dari konsep emerging literacy itu sendiri.

Membangun budaya literasi dengan mengembangkan konsep emerging literacy juga tidak serta-merta mensuplai anak-anak dengan bahan bacaan. Jika boleh dikatakan, kita tengah membangun pondasi rapuh budaya literasi. Bagaimana tidak, itu sama saja seperti memberikan obat pada anak dan meminta mereka untuk mengonsumsinya tanpa memberi arahan terlebih dahulu banyak hal tentang penyakit dan bagaimana cara mengatasi penyakit tersebut. Anak-anak tentu bisa keracunan obat literasi, bukan? Sehingga rasa-rasanya bukan tanpa alasan Plato menulis buku berjudul Phaedrus dan membakar banyak koleksi perpustakaan pada masanya.

Lantas di mana peran keluarga, khususnya orangtua, yang semestinya dominan dalam kegiatan emerging literacy tersebut? Jika ditelusur, Indonesia sesungguhnya kaya dengan teknik emerging literacy berbasis kearifan lokal. Sayangnya, kurang mendapat perhatian dan terabaikan. Kita sibuk mengadopsi teknik dengan berbagai skala kalkulasi serba import.

Masyarakat Minangkabau, Sumatera Barat, misalnya.  Mereka mengenal tradisi yang bernama manjujai. Manjujai merupakan bentuk komunikasi yang terjadi antara ibu dan anak secara intens. Ibu akan mendendangkan anak-anak mereka banyak hal tentang alam, filosofi hidup, pun termasuk di dalamnya dongeng, legenda, sejarah, hingga anekdot. Dilanjutkan dengan proses belajar informal yang diterima anak laki-laki yang sudah memasuki tahap balig, melalui surau. Konsep emergent literacysesungguh sudah dimulai dalam tradisi tersebut, justru tanpa diawali dengan serta merta mengenalkan anak pada buku.

Hal serupa terdapat hampir di seluruh wilayah Indonesia dengan nama dan cara yang berbeda. Semestinya, para penggiat literasi hingga tataran pembuat kebijakan bisa lebih melirik lantas mengadopsi teknik-teknik yang berbau lokalitas yang mengutamakan peran keluarga dalam kegiatan literasi, bukan sebaliknya; menyerahkannya pada  institusi pendidikan dan komunitas atau rumah baca.

2017

*dimuat pada harian Riau Pos, 26 April 2017.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s