Lagu Mei

Pada pagi pertama kami susun barisan
kata demi kata di mulut nasib sendiri-sendiri.

Bergerombol kami menuju suatu medan
bertolak atas upah dan hakikat.

Seperti sebentang suara berhujah
dari dada yang terpancang sembilu.

Ini adalah nyanyian esok hari
yang siuman dari kolong mimpi.

Tempat perut selengang lubang
dan otot-otot yang terjerang.

Di ambang jendela mata generasi
belajar arah dari makna dan teori.

Agar memandang ihwal dan etika
bukan sekadar letak kacamata sebagai estetika.

Ini adalah gubahan nyali yang tak pulih
dari masa lalu, kini juga tak terperi.

Meski si pencuri telah tergelincir
serentak sejarah kesedihan orang lain

tak lantas pula pengertian ini selesai
karena kami hidup utuk menanya bukti.

2014
———————————————————————————-
Puisi Yona Primadesi, dimuat pada harian Pikiran Rakyat, 2014.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s