​Antara Idul Fitri dan Maaf Lahir Batin*

Bulan Ramdan sudah memasuki minggu penghujung, yang artinya tidak lama lagi bersambut bulan Syawal. Berbagai ucapan akan dikirimkan dan dihaturkan bagi kerabat dan tetangga. Kalimat “mohon maaf lahir dan batin” kemudian menjadi topik utama di masa-masa tersebut. Tidak sedikit masyarakat yang berasumsi, belum afdal ibadah puasa seorang umat jika menjelang Syawal tidak mengucapkan permohonan maaf lahir dan batin pada sesama.

 

Tidak cukup sampai di situ, berbagai spanduk, baliho, papan reklame, hingga iklan-iklan di media massa pun berlomba-lomba memampang kalimat tersebut. Seakan tidak lengkap kehadiran bulan Syawal tanpa kalimat, “mohon maaf lahir dan batin”. Akan tetapi kemudian menjadi sebuah pertanyaan yang barangkali remeh di antara tradisi masyarakat yang demikian, sudah tepatkah penggunaan kata lahir dan batin dalam sebuah permohonan maaf?

Pikir saya, barangkali kalimat “maaf lahir dan batin” tersebut, salah satunya, sebagai akibat dari khotbah di setiap salat Idul Fitri yang disampaikan khatib: kabar bahagia bagi umat muslim yang telah selesai menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadan, dan bahwa Idul Fitri dimaknai sebagai hari penghapusan dan pengampunan segala dosa dan kesalahan, bahwa manusia kembali kepada fitrahnya, kembali suci seperti bayi yang baru dilahirkan. Idul Fitri secara berjemaah dan bebas disepakati mengandung pengertian, “kembali suci”, yang imbasnya, permohonan maaf secara besar-besaran lahir dan batin pada sesama manusia.

Secara etimologis, Idul fitri berasal dari bahasa Arab, id dan al-fitri. Id itu sendiri mengandung pengertian sebagai sesuatu yang dilakukan secara berulang atau dilakukan pada waktu yang sama. Memang betul, perayaan Ramadan selalu dilakukan pada tanggal 1 Syawal setiap tahunnya. Sementara fitri, seperti yang selama ini dipahami dan diyakini oleh masyarakat, tidaklah sama artinya dengan fitrah. Fitri sesungguhnya berarti berbuka, tidak lagi berpuasa, atau lugasnya “sarapan pagi”.
Jelas terlihat bahwa Idul fitri bukanlah sesuatu yang dimaksud untuk menyatakan sesuatu yang kembali suci, yang terhapus dari dosa, yang fitrah, melainkan “selamat hari sarapan pagi” semata. Artinya, ucapan idul fitri sebagai penanda bahwa umat muslim sudah usai menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan dan selayaknya berbuka pada tanggal 1 Syawal.

Pemaknaan yang keliru ini kemudian menarik masyarakat pada sebuah tradisi pengucapan kalimat “mohon maaf lahir dan batin”.  Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), lahir bermakna yang tampak dari luar atau kelihatan keduniaan; jasmani. Sedangkan, batin adalah sesuatu yang terdapat di dalam hati; sesuatu yang menyangkut jiwa (perasaan hati dan sebagainya). Ketika permintaan maaf menyangkut kesalahan lahir dan kesalahan batin, secara semantik menjadi samar. Barangkali, kesalahan yang sifatnya lahir atau terlihat, bisa dimaklumi. Akan tetapi bagaimana dengan kesalahan yang sifatnya “batin”? Kesalahan yang bagaimanakah itu? Apakah manusia bisa menerka dan menakar hati atau batin manusia lainnya? Apakah manusia keseluruhan sudah memiliki kemampuan sebagai ahli nujum atau paranormal?

Akan lebih logis, ketika permintaan maaf diucapkan, “mohon maaf atas segala kesalahan yang disengaja maupun yang tidak” ketimbang kesalahan yang sifatnya batin dan tak kasat mata tersebut. Tetapi bukankah bahasa bersifat abriter, manasuka? Jadi, mohon maaf jika penulisan saya ini secara sengaja maupun tidak sudah menggelitik tradisi yang bertahun diyakini dan diamini belaka.

*dimuat pada harian Padang Ekspress, 2 Juli 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s