Puisi di harian Indopos, 28 Juni 2014

Kacamata Tak ada sesiapa hanya kaca dan mata sejoli yang saling jaga: lamur dan akurat. Dan aku si lamur yang uzur kadang pada jam aku mendengkur kata-kata merajuk ingin diterka seperti petak-umpet yang jenaka. Tentu aku suka permainan ini keseksamaan yang sarat naluri terlebih ketika nyaris pada premis atau ganjil yang terus menggubris. Dan si…

Puisi di harian Bali Pos, 19 April 2015

Anak Dara Bagai kembang api yang dibariskan di rangkum rambutmu arakan yang menandu bau tungku dan abu. Sementara ruang pada ujung sangguluang menjuntai di punggung-punggung perempuan. Halaman di antara lampu-lampu membias dalam rampai pantun kata dan lantun yang pupuh. Langkah kaki menjelang pintu serupa talempong pacik memainkan nada minimal dan puput dari bibir si tukang…

Puisi di harian Media Indonesia, Minggu 24 Mei 2015

Prabhasa  Aku tengah dimabuk cinta, Wasistha, ketika kau kutuk aku menjadi lumpur di dasar sungai. Nandini hanya gelang kaki bingkisan wasu untuk sejumput rekah di merah wajah penghias kekanakan; ditaburi kidung penuh puja juga kuncup-kuncup rupa warna. Tapi kau benamkan aku ke dalam Gangga antara wangi dupa, ketuaan yang mengoceh seperti gembala pada ternak, juga karma…