Menilik Ulang “Dirgahayu Kemerdekaan”

Barangkali tidak akan pernah salah ketika Agustus mendapat gelar bulannya nasionalisme dan patriotisme bagi hampir seluruh masyarakat di Indonesia. Bagaimana tidak, di bulan ke delapan dalam kalender masehi, persis 72 tahun silam, sebuah bangsa ‘lahir’ secara de facto. Kelahirannya ditandai dengan diikrarkannya pengakuan dan pengesahan kemerdekaan oleh Soekarno – Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945, yang dikenal dengan nama hari Proklamasi Indonesia. Setelahnya, 17 Agustus diperingati sebagai hari kemerdekaan dan selalu dirayakan dengan meriah di seluruh pelosok tanah air.

 

Tak cukup sampai di situ, berbagai bentuk ucapan membanjiri setiap ruas jalan, gapura, gedung perkantoran, serta ruang-ruang publik lainnya. Tak ketinggalan, masyarakat dari berbagai kalangan dan lapisan pun turut mengucapkan selamat dan syukur melalui akun media sosial masing-masing. Hanya saja, berbagai kekeliruan atau kesalahan pengucapan dalam kaidah berbahasa Indonesia, seakan luput dari perhatian kita. Polemik ini terjadi hampir setiap tahun, hingga menjelma kekeliruan yang bersifat kronis dalam perayaan kemerdekaan.

 

Tapi dalam tulisan kali ini, bukan repetisi ucapan selamat yang lumrah terjadi sebagai pokok persoalan. Melainkan penempatan objek dari ucapan selamat itu sendiri, yang mungkin abai dari perhatian. Apakah ‘bangsa Indonesia’ atau ‘republik Indonesia’ yang seharusnya menerima ucapan dirgahayu kemerdekaan tersebut?

 

Jika ditinjau selalu, secara historis penjajahan itu terjadi pada bangsa Indonesia, bukan pada republik Indonesia. Dan ketika Soekarno-Hatta membacakan teks proklamasi, republik Indonesia sama sekali belum berdiri, hanya ada bangsa Indonesia, yang kemudian memerdekakan dirinya dari penjajahan. Negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI) baru berdiri  pada tanggal 18 Agustus 1945 setelah PPKI mengambil keputusan dan mengesahkan UUD 1945, serta memilih Soekarno dan Moh. Hatta sebagai presiden dan wakil presiden Republik Indonesia.

 

Antara bangsa dan negara memiliki perbedaan yang sangat mendasar. Perbedaan tersebut bisa ditilik dari wujud, legitimasi, ikatan dan ciri, serta kepemilikan wilayah. Sebuah bangsa merupakan sekumpulan masyarakat dengan ciri tertentu, terikat pada satu kesatuan yang mencirikan jati dirinya tersebut, baik berupa bahasa, ras, fisik, identitas, maupun adat-istiadat serta tidak memiliki legitimasi dalam mengatur anggotanya. Hal tersebut bertolak belakang dengan negara. Sehingga pada teks Proklamasi, akan ditemukan kata bangsa bukan negara atau republik.

 

Mari kita melihat kembali teks Proklamasi Indonesia;

 

Kami bangsa Indonesia, dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia.

Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Jakarta, 17 bulan 8 tahun 45

Atas nama bangsa Indonesia

Soekarno – Hatta

 

Teks tersebut secara jelas menunjukkan bahwa yang menyatakan kemerdekaan bukanlah Indonesia sebagai sebuah negera (republik), melainkan Indonesia sebagai sebuah bangsa. Selain itu, Soekarno dan Moh. Hatta dalam teks proklamasi mewakili bangsa Indonesia, bukan republik Indonesia. Hal tersebut dikarenakan republik Indonesia pada saat proklamasi diikrarkan belumlah ada. Republik Indonesia itu sendiri baru terbentuk keesokan harinya, 18 Agustus 1945, yang kemudian menjadi pengakuan secara de jure sebagai sebuah negara.

 

Jika pada tanggal 17 Agustus 1945 telah ada negara (republik) Indonesia, tentu dalam teks proklamasi, Soekarno dan Moh. Hatta akan mendaku dirinya sebagai presiden dan wakil presiden dari negara Indonesia. Tapi pada kenyataannya, tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia masih merupakan sebuah bangsa dalam upaya memerdekakan dirinya, dan pengakuan tersebut pun masih bersifat de facto.

 

Jadi, apakah ucapan dirgahayu yang disampaikan setiap tanggal 17 Agustus, selayaknya ditujukan pada bangsa Indonesia atau Negara Kesatuan Republik Indonesia? Atau, apakah ucapan dirgahayu NKRI itu semestinya disampaikan pada tanggal 17 Agustus atau 18 Agustus? Memang tidak mudah mengubah tradisi yang sudah diselenggarakan selama 72 tahun, meski hal tersebut semata perkara bahasa. Tapi alangkah bijak jika kita mulai mempelajari sejarah dan bahasa kita dengan lebih baik, bukan? (YP)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s