Puisi-puisi Yona Primadesi, Harian Kompas, 9 Desember 2017

TRAGEDI KAMPUNG JANDA, 1983

 

Di Krakas, langit semendung hatimu

saat suamimu dihajar peluru,

dan ayahmu terperangkap nyala api.

 

Sementara udara Agustus

satu-satunya pakaian perkabungan

ketika pijar merah meletup dari kepala

 

dan dada anak laki-lakimu, atau

popor senjata meninggalkan surih

di antara pahamu, jadi jalur

 

sunyi monumen tanpa pemuja.

Tapi di tempat terpencil begini

kau hanya bisa teriak atau

 

terisak gemelugut. Tak ada yang

akan menyelamatkanmu, mengingatmu,

atau menginventaris nama anak laki-lakimu

 

pada catatan kaki sebuah buku panduan

kemanusiaan–sekadar ucapan bela sungkawa.

Antara ranum buah ampupu di Bibileu

 

kau arak sisa ingatan, sembunyi

dari aroma mesiu, pekat asap, dan

gelegar hijau– mengubur masa lalumu.

 

Sesekali kau terpaku, kabut merayap

di matamu, ingat saat mereka seret

tubuh laki-laki di kampungmu

 

umpama sampah dari sebuah sejarah

hingga bau sangit, anyir darah, atau

jumlah tengkorak, semata pengingat.

 

Dan mereka menyebutnya, pembalasan!

 

2017


 

PETA MASA SILAM , 1975

 

Sebab takdir menjelma
laung seekor gagak
menaksir hayatmu
di tarikh almanak.
Peta silam pun digulung
jarum firasat ditenangkan
berpalinglah penantian
dari tepi pesisir itu.
Mereka telah menyiapkan
riwayatmu di tumpuk batu
bersama makam kosong
sebagai duka yang hampa.
Hingga tutup matahari
awan mendung serta air mata
dan doa yang lelah adalah
bunga melepas tangkainya.
Sahajanya jarak
adalah maut itu
berbentang selat
dan seperdua abad.
Kau pasti muskil percaya
takdir pula yang membuka
gulungan masa silam
peta yang buram itu.

 

2017

—————————————————————————————————————————————-

 

INDEKS SALAH CATAT, 1998

 

/1/

Tanganmu tak cukup cekatan

menghapus nama putramu dari

halaman indeks buku sejarah.

Suaramu juga tak senyaring

 

mesin sedot debu di gedung

pemerintah, rapikan sobekan

arsip dari ruang bawah tanah.

Kau masih saja bertanya,

 

‘Di mana anak-anak kami?’

meski langit kamis selalu sama

dua dekade simpan rindu

bagai sepotong tali di lehermu.

 

/2/

Tubuh mereka teridentifikasi

dalam pose kejang saat tinju

sekuat palu menghantam perut

 

garis sayat merias pelipis

otot-pitam satu-satunya hiburan

dari efek linglung sebelum butir

 

peluru jadi bonus tiket kesunyian.

Nama-nama jadi kabar burung antara

berkas kerja dan pidato penuh melankoli.

 

2017

————————————————————————————————————————-

 

BERSELUNCUR DALAM DONGENG

 

Dongeng timbul dari alkisah gua

julurnya kira-kira seekor melata.

 

Gadis kecil rebah di ranjang

dielus kulitnya sambil dibisiki.

 

Dalam tidur ia sudah ditelan dongeng

ia meluncur bagai di lorong usus.

 

Mencuat dari buntut dongeng

ditadah keramaian antah-berantah.

 

Ia pangling bertemu wajahnya

di bermacam badan dan usia.

 

Semua lalu mengenalkan muasalnya

dari zaman silam hingga masa depan.

 

2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s