Puisi-puisi Yona Primadesi, Harian Media Indonesia, 5 November 2017

SAKSI-SAKSI TIMOR-TIMUR, 1975

————————————————————

————————————————————

MEMOAR KECIL

MAUKUNDA DOMINGGUS

 

Lepas dari rajaman maut

bapakmu tinggal mendekam

bagai siput dalam cangkang,

masih terlintas di hatimu menoleh

dari bahu para pengungsi,

Ailora tersisa kekalutan.

 

Jauh ke pedalaman hutan

mencari batu-batu persembunyian

atau pohon-pohon tua pelindung,

letih ambil kendali tubuhmu,

pejam sebentar

masuk ke mimpi

di bawah bayang-bayang

salak-meriam bala tentara,

instruksi pendek suara radio

lekas mengudara

dibalas siulan bom dari langit

menyentak jantungmu—

ladang, ternak, serta rumahmu

berguncang seakan serpihan

di atas dentuman gendang.

 

Hanya logat ibumu

sapuan halus pada ulu hati

yang bergumpal debu duka,

namun tak juga cukup tahun

berbagi perjalanan denganmu,

maut memutus rute hayat ibumu,

terpencil kau seorang diri

menyusuri waktu tanpa arah

tanpa lebih dari anggukan dagu

di hadapan seorang infanteri,

menodongmu dengan mata lebarnya

seolah kau seekor kerbau

dipasangi kayu lengkung.

 

Tahun ganti tahun,

usia cuma seputar angin

di kemah-kemah rumput

atau pakaian lusuh selalu

menanggung peluh kuli deritamu,

dan semau tangan mereka mencela

dengan semau alunan mereka tertawa

terdorong sentakan keras otot

menekan tulang rusuk dan pipimu

hingga meletup erangan pendek.

 

Bulan berkali muncul-hanyut,

tiba siang di Pahineang

seka keringat sebentar

silau sekedip matamu

pas matahari kelupas awan

jerih suara masih terasa

lembap di pundakmu

dicengkam ransel-buncit

penuh peluru dan ransum,

bila saja muncul lirik sekilas

dari balik punggung Tuan,

pasang raut jinak anak anjing.

 

Kembali kau sebatang diri,

setelah milisi Timor

menanggalkan bebanmu;

lepas dari cengkeraman Karman

disambut Adi Muhammad Amin,

buka hari tutup hari

kau cuma bergeming diri

bagai siluet benda rampasan

disiram mata nyalang seorang lanun.

 

Singgah pelayaran di Kendari,

dari Kolaka sampai Enrekang

tak lain berkilo-kilo daratan

di bawah telapak kakimu yang lebam,

selama di Polmas kau cuma

dirias nasib jadi burung peniru

bahkan untuk sehelai kain penyeka.

 

2016-2017

—————————————————————————————————————————————

 

SECARIK BERKAS LAMA

ISABELINA PINTO

 

Sebisanya laut

hanya sedu-sedan ombak

ketika rantai jangkar dikerek naik,

beban rengekanmu

serupa barang jarahan direnggut

dari tangan-dermaga bapakmu.

 

Kautatap Dili

bagai pancang kayu terendam

usai dihantam popor teror,

maka tinggal lipatan rok masa kecil

dalam lemari-usia ibumu.

 

Awan siang itu

tak seharu hatimu

melainkan terik matahari

lampu panggung riwayatmu

di hadapan satwa laut,

tepukan sayap burung

dan kasak-kusuk angin

terperanjat saat tangan geram

seorang prajurit

melayangkan kepalamu

ke dinding kapal

sebelum mendaratkan misi

di selatan Sulawesi.

 

Hatimu tak lain hutan terpencil

dalam mata mungil seekor kenari

—kau menatap pulang

jauh ke langit, khayalan rumah

dari rasi bintang;

ladang jagung dan kopi

dan awan-bulu kambing

sekilas tersaput kelopak kantukmu.

 

Pagi serupa pagi berikutnya,

jam belajar telah dilempar keluar,

jalan Kendari ke Kolaka

catat telapak kakimu

lalu Bone dan Enrekang

sodorkan kursi,

Adi Muhammad Amin melatihmu

menjadi babu yang patuh

pada erangan malas majikan.

 

Di Polsam bagai kandang

untukmu dan Maukunda

—saudara angkat

yang separuh hari belajar

menjadi beo di sekolah,

paruh hari lainnya

senasib kerbau.

 

Tiga tahun tubuhmu nyaris

jadi pelampiasan otot sehari-hari

macam tinta stempel pada surat

perpanjangan kontrak ilegal,

sampai seorang sejawat Tuanmu

tukar tebusan iba bagimu ke Takalar.

 

Satu engahan

membuka jam belajar

kembali kau duduk mencatat,

menekuri abjad

demi menjawab muasalmu

yang samar; desa Susekar

atau Malmera atau Remeksio,

dan air mata

jadi semacam lensa minus

saat Miggel meluapkan ingatanmu,

maka di hatimu tumbuh lagi

rindu itu seperti bibit-bibit jamur

bertahun-tahun kau rawat di Malino.

 

39 tahun bertumpuk berkas

masa silam dipenuhi stempel cap Seroja,

pelan kau perinci satu demi satu

hingga kau meringkuk di sudut sofa

seperti Kauka—nama kecilmu

yang menyusut di satu sel otak

di balik kebahagiaanmu sebagai istri.


 2016-2017

—————————————————————————————————————————————

 

KATALOG MASA KECIL

MIGGEL JUSRIL AMRAL

 

Hutan tak menaungi

pelarianmu dari petaka,

selain akar-akar tua

juga batu-batu purba

yang kaku dan bisu,

namun api dari nafsu

bala tentara yang bengis

mengobarkan satu ke lain

rumah di tanah sukumu,

dengan dicerca meriam

dan senapan-darah-dingin

yang naik pitam

hingga ke saraf ambisi

mereka mendesakmu

masuk ke belantara itu.

 

Tak ada mukjizat di dalam hutan

hanya taring-udara-dingin

dalam butanya malam

dalam hati yang rawan

ribuan pengungsi meringkuk

di sela pohonan,

pondok kecil dibangun

dengan sisa jerih

demi fantasi liburan

di mata anak-anak

dalam pelukan ibunya

yang merana.

 

Hutan tiada lain pengasingan

bahkan serupa sel bagimu

sebab setiap jalan keluar

telah disumbat pos-pos serdadu

kendati langkah tikus sekali pun

tak membuat doa-doamu

mampu bersuara,

kecuali sewaktu-waktu

gendang telingamu pekak

dikejutkan peluru meriam

dan seonggok bom diturunkan

—itulah karunia dari langit

untuk semacam vista

dari bangkai pengungsi yang

dibingkai pohonan rubuh.

 

Gugur daun ganti tahun

hutan umpama kalender

dari kulit pohon terkelupas

ambil selembar-selembar

sebab saban hari akan ada

jiwa seorang atau dua

terangkat dari tubuhnya

yang mesti kaubalut

bersama hatimu menimbun

lahat yang dangkal itu,

dan seekor anjing mendengus,

menggali titik pangkal air matamu

untuk kembali kau basuh

derita mereka di bumi.

 

2016-2017

————————————————————————————————————————————

 

Advertisements

One Comment Add yours

  1. Waah keren… puisinya udah dimuat di koran… mantap mba… semoga saya juga bisa punya tulisan yang dimuat di koran.. sama kayak mba… amiiin

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s