Anak, Media Sosial, dan Kehidupan Sosialnya

Belakangan, Naya, putri saya sering melontarkan kalimat, kenapa ya nda teman-teman Naya sudah punya Facebook sama Instagram, padahal umurnya masih kayak Naya? Awalnya, saya anggap itu semacam bentuk protes yang ia luncurkan karena aturan yang kami sepakati bersama; hingga ia menginjak usia 15 tahun, tidak akan diperkenan menggunakan telepon pintar dan sejenisnya, lengkap dengan semua aplikasinya. Saya pun mengajak ia berbincang ringan tapi serius, perkara teman-temannya yang memiliki dan menggunakan telepon pintar, entah di sekolah atau di tempat kursus. Ia dengan lancar bercerita tentang teman-temannya yang asik sendiri, sibuk sendiri, marah-marah sendiri, bicara sendiri, senyum-senyum sendiri, hingga terjedut pintu karena asik dengan telepon pintar masing-masing. Saya mengulum senyum; paling tidak, ia paham bahwa ada efek dari penggunaan telepon pintar.

Lain cerita tentang seorang sahabat di Yogya, Cipto. Bukan karena novelnya, Darah Muda, yang baru diluncurkan dan sudah terjual 400 kopi dalam waktu satu bulan, yang menarik minat. Beberapa teman (termasuk saya sendiri), sering mengeluh. Betapa susah ia untuk dihubungi. Ia tidak memiliki setidaknya pesawat telepon sederhana agar akses lebih mudah. Alasannya, jika aku pakai handphone, aku akan terikat dan diatur oleh alat itu. Terus kapan aku kerjanya? Untuk peristiwa terakhir, banyak yang akan berdalih, masing-masing akan sangat mampu mengatur frekuensi pemanfataan telepon pintar mereka. Atau bisa jadi anggapan bahwa alasan Cipto terlalu naif. Tapi ada yang menarik dari alasan Cipto.

Saya coba berkaca pada diri sendiri. Saya menggunakan telepon pintar sudah lumayan lama. Tidak ada alasan krusial, awalnya. Hanya perkara, saya tidak mau terlihat kuno atau tidak apdet. Bermacam aplikasi pun sudah saya pasang. Belakang, yang paling sering saya otak-atik di telepon pintar tak lebih: facebook, Instagram, dan Whatsapp. Lalu saya coba ingat kembali, rasanya begitu sulit bagi saya untuk lepas dari ketiga aplikasi tersebut. Tiap sebentar saya buka, saya geser ke atas dan kebawah, saya baca, yang kenyataan, informasi yang tertera di situ, meminjam istilah Minang, indak baranjak dari itu ka itu sae! Tapi entah mengapa, saya semacam kecanduan. Saya merasa butuh dan perlu untuk memeriksa notifikasi dari ketiga media sosial tersebut.

Putri saya, Naya, teramat sering protes. Bunda, apa sih yang bunda lihat di handphone bunda? Kok ga pernah berhenti? Seenaknya saya jawab, mungkin ada pesan penting dari teman-teman Bunda- hingga alasan-alasan lain yang sering terasa mengada-ada. Saya semacam mulai kecanduan. Tapi saya juga bimbang, apakah saya harus menghentikannya, atau saya masih membutuhkannya?

Saya coba cari referensi yang barangkali bisa menjawab pertanyaan tersebut. Dan ketika saya memutuskan menuliskan ini, ada semacam kegalauan dalam hati. Bagaimana tidak, saya semacam memiliki tanggungjawab moral untuk mempertanggungjawabkannya dalam keseharian, bukan semata teks yang kurang bernilai, karena menuliskannya untuk melepas tuntutan tugas belaka.

Menurut beberapa jurnal psikologi dan kesehatan mental yang saya baca, ada beberapa alasan penyebab individu merasa perlu untuk melakukan aktivitas di media sosial, terutama mengunggah status, foto, atau sejenisnya. Dimulai dari keinginan untuk mengidentifikasi diri (self presentation); tetap menjaga koneksi dengan apa yang menjadi tujuan identifikasi diri; self positioning untuk menunjukkan kedudukan dan siapa individu tersebut sesungguhnya; dan yang paling utama kecenderungan manusia untuk berbicara mengenai dirinya hingga 80% dari total keseluruhan yang dibicarakan sehari-hari. Ya, semacam self fullfilment sebagai sebuah digital marketing enthusianst.

Ketika saya seorang ibu rumah tangga, maka saya akan melakukan branding melalui postingan perkara kegiatan sehari-hari saya sebagai ibu rumah tangga, bahkan hingga mencabut bulu ketiak sekali pun. Ketika saya seorang koki, tentu status saya lebih dominan perkara hal yang berhubungan dengan dunia masak-memasak. Sehingga status seorang ibu rumah tangga didominasi perihal menyiapkan sarapan, mengantar anak-anak sekolah, memasak untuk keluarga, pengajian dan majlis talim yang saya ikut, hingga betapa pasangan saya seorang suami yang penyabar dan penyayang terhadap keluarga.

Saya melakukan self presentation bahwa sebagai perempuan, bahkan perempuan yang tidak bekerja sekalipun, saya memiliki kondisi ideal. Saya juga membagikan postingan lain pada media sosial saya, yang merupakan sebuah bentuk marketing diri lanjutan. Tanda like hingga awesome dari teman-teman di media sosial, menjadi semacam penentu pososi (self positioning) dalam masyarakat, dan itu jadi sangat penting. Hingga tanpa sadar, saya akan seharian memantau perkembangan like atau komentar atas apa yang sudah saya unggah di media sosial. Menjadi semacam kebahagian atau rasa sedih yang tiba-tiba, ketika sedikit atau bahkan tidak ada respon dari siapa pun.

Saat status saya banjir like dan komentar, rasa bahagia muncul. Hal ini disebabkan otak akan menghasilkan hormon dophamine dan hormon axytocin. Kedua hormon tersebut bisa dikatakan semacam hormon kesenangan yang menyebabkan saya termotivasi untuk mencapai target dan kepuasan. Kedua hormon ini berperan dalam meningkatkan perasaan cinta, sayang, dan percaya. Hormon ini akan membuat rasa nyaman dan bahagia.

Ketika saya menerima pesan, saya akan merasa enak, asik, atau bahagia. Sehingga ketika merasa kesepian, saya akan berkirim pesan atau memperbaharui status sambil menunggu komentar atau like dari teman. Meski pesan yang persis sama saya kirimkan pada semua nama di kontak sekalipun, tidak masalah. Hal terpenting adalah respon yang bisa merangsang produksi hormon dophamine, bukan relasi yang sedang saya bangun.

Respon-respon yang saya peroleh bisa membuat saya bahagia. Itu lumrah, karena memang manusia merasa bahagia ketika mendapatkan respon atas pesan yang sedang ia sampaikan. Lantas saya mulai menghitung dan menunggu sudah berapa jempol atau tanda hati yang diperoleh, sudah berapa komentar yang masuk, atau bagaimana tanggapan lain dari status tersebut.

Sebaliknya, ketika status di facebook, Instagram, atau media sosial lainnya kurang mendapat respon atau tidak mendapat respon sama sekali (whatsapp saya cuma dibaca, tidak dibalas. Oh dia sedang online tapi tidak menggubris pesan saya!), sering merasa ada yang salah dengan diri saya atau status saya. Kadang saya mulai berpikir bahwa orang-orang mulai tidak menyukai saya. Mengapa tidak ada respon dari siapa pun? Apa yang salah? Bahkan seringkali muncul semacam trauma karena merasa tidak dinginkan lagi atau tidak diacuhkan.

Celakanya, hormon dophamine yang dihasilkan otak, yang membuat saya merasa bahagia ketika status saya diakui, merupakan cairan yang sama yang muncul ketika orang-orang merokok, minum alkohol, atau berjudi. Hormon yang menyebabkan rasa puas dan senang dan sangat membuat kecanduan.

Saya sedikit terkejut menghadapi fakta ini. Apakah artinya, ketika saya kecanduan memperbaharui status, lantas penuh deg-degan menunggu setiap komentar dan like yang masuk, sama kondisinya dengan orang-orang yang kecanduan rokok, kecanduan alkohol, kecanduan narkoba, kecanduan judi? Lalu perkara candu, apa beda saya dengan para pemadat dan penjudi? Lalu mengapa saya selalu mencoba untuk mengasingkan diri dari hal-hal demikian, tetapi tidak pada kecanduan yang saya idap? Lalu, jika saya memberi ijin dan kebebasan pada anak saya menggunakan telepon pintar, apakah bisa dikatakan sama akibatnya ketika saya membelikan anak saya sebotol minuman beralkohol atau sepaket narkoba? Pertanyaan tersebut menghantui saya beberapa hari terakhir.

Saya teringat komentar Naya mengenai anak-anak yang begitu tekun dengan telepon pintar, mulai dari permainan online, hingga media sosial yang mereka miliki. Anak-anak mulai bebas mengakses hal-hal yang bisa membuat kecanduan, yaitu semacam stimulus untuk menghasilkan cairan dophamine melalui media sosial atau telepon pintar. Orang tua tidak menyadari hal tersebut, bahwa yang mereka lakukan hampir sama efeknya dengan memberikan alkohol, narkoba atau membiarkan anak bermain judi. Anak-anak menjadi lebih sukar dibentuk dalam masa pertumbuhan mereka.

Hal yang paling mengerikan dari efek hormon dophamine melalui media sosial dan telepon pintar adalah, anak-anak tidak tahu bagaimana membangun sebuah hubungan dengan sesama. Bukan hanya hubungan di permukaan, sekadar sapaan ketika berpapasan. Tetapi hubungan yang lebih dalam dan itens. Anak-anak beranjak memiliki nilai persahabatan yang dangkal. Mereka tidak memiliki keterikatan secara emosional yang lebih jauh dengan teman-teman, sehingga kemudian teman-teman tersebut menjadi tidak bisa diandalkan.

Anak-anak mungkin bisa bersenang-senang dengan teman-teman mereka. Tapi mereka tidak akan mendapatkan semacam sebuah pengorbanan-pengorbanan kecil ketika teman-teman tersebut menemukan sesuatu yang lebih mengasyikan lewat pesawat telepon dan media sosial. Anak-anak jadi semacam memiliki kegamangan dalam menjalin relasi sosial. Lebih buruk, mereka tidak mempunyai mekanisme untuk beradaptasi terhadapat tekanan, sehingga ketika mereka mengalami tekanan atau stress, mereka akan kesulitan menemukan seseorang untuk bercerita. Padahal salah satu cara untuk mengurangi stress dengan menghasilkan hormon endhorpin, semacam bergosip dengan orang terdekat.

Anak-anak lantas lari pada media sosial, mulai bercerita tentang persoalan mereka, yang tanpa disadari sesungguhnya bersifat pribadi. Mereka kemudian merasa lega ketika mendapat respon dari teman-teman di media sosial, padahal respon-respon tersebut sifatnya sementara. Pertemanan melalui media sosial sifatnya sangat dangkal.

Saya kembali teringat sebuah berita beberapa waktu lalu. Dua orang siswa sekolah menengah lanjutan tingkat pertama terpaksa mendapatkan terapi khusus dari ahli jiwa. Hal tersebut dikarenakan mereka mengalami semacam gangguan psikologis akibat kecanduan menggunakan telepon pintar. Apakah efek ini sama dengan orang yang kecanduan narkotika? Saya sungguh ngeri membayangkannya.

Tidak ada yang salah dengan hanphone dan media sosial, selama penggunaan dan pemanfaatannya seimbang. Tetapi kenyataan, justru sebaliknya. Faktanya, kita mulai benar-benar tidak bisa melepaskan perangkat kita. Bahkan, lebih mengerikan ketinggalan telepon pintar dibandingkan ketinggalan dompet. Kita sudah benar-benar kecanduan, dan seperti kecanduan terhadap apapun, hal tersebut bisa menyebabkan rusaknya hubungan, membuang waktu, membuang uang, dan menjadikan hidup semakin lebih buruk. Seperti halnya perlakuan terhadap pecandu lainnya, maka kita juga harus menjauhkan pesawat telepon dari jangkauan.

Dan hal penting yang harus dipelajari anak-anak jaman sekarang adalah mengenai kesabaran bahwa hal-hal yang sangat berarti seperti cinta, atau pencapaian kerja, kebahagiaan, kasih dalam hidup, kepercayaan diri, keterampilan, membutuhkan waktu yang panjang, tidak mncul begitu saja. Jika larangan terhadap rokok, judi, alkohol, sudah jelas, bahkan diatur dalam peraturan perundangan, tetapi tidak demikian halnya dengan handphone dan media sosial. Tanggungjawab kita untuk mengajarkan anak-anak membangun kepercayaan diri, belajar untuk bersabar, belajar keterampilan untuk bersosialisasi, dan menciptakan keseimbangan antara kehidupan dan teknologi, bukan sebaliknya. YP

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s