Bahan Bacaan Apa yang Pantas bagi Kanak-kanak

Literature must be discussed. It is only by discussing with others who have experienced a book that new meaning can be effectively constructed (Bicknell, p.45)

Sebelum saya coba jawab, ada baiknya kita samakan dulu pemahaman tentang baca. Membaca atau baca, bukan perkara atau aktivitas remeh. Bukan hanya ambil buku, duduk, lantas tangkap huruf-huruf yang ada di setiap halamannya. Membaca bukan hanya perkara kegiatan mata, sehingga aktivitas baca cukup dilakukan dengan beri anak buku, biarkan mata mereka melotot besar terhadap teks di lembaran buku. Membaca juga bukan aktivitas yang sifatnya pasif. Mata menangkap teks dari buku dan direkam oleh otak.

Ditambah lagi, pernyataan yang dikeluarkan para ahli biologi bahwa baca bukan sekadar kegiatan menerima citra dari luar tubuh dan memasukkan ke dalam memori manusia. Ketika baca, otak secara aktif (bukan pasif) melalui ajudannya, mata, melakukan proses mengambil, memilih, menyiangi, dan memberi makna atas citra yang didapat. Sehingga ketika proses membaca terjadi, otak bukan hanya menerima pesan, tapi melakukan tiga pekerjaan sekaligus: mengenali citra, mengidentifikasi secara linguis, dan melakukan asosiasi. Jadi baca itu bukan perkara remeh, sebab dibutuhkan otak yang cukup cerdas untuk melakukan tiga hal sekaligus.

Lantas, apakah ketika saya merasa kurang cerdas sama artinya saya tidak bisa membaca? Jawabnya, manusia dilahirkan dengan kondisi otak yang berfungsi (jika tidak, artinya ia koma atau lahir dalam kondisi tidak normal) Tetapi, tidak semua individu bisa memfungsikan otaknya secara optimal. Film sicence fiction beberapa tahun lalu, Lucy, memberitahu bahwa otak hanya bisa difungsikan 10% saja. Itu sudah sangat cerdas, sekelas Einsten atau Habibie. Banyak hal yang memengaruhi fungsi otak; genetik hingga lingkungan.

Untuk urusan baca, kita tidak akan bicara perkara yang pertama, tapi sebaliknya. Kondisi lingkungan sangat berpengaruh untuk menciptakan anak yang cerdas untuk membaca.  Persoalannya, selama ini lingkungan yang mendukung cenderung fokus pada hal eksternal semata, mulai dari bahan bacaan yang berkualitas hingga akses anak terhadap bacaan. Aspek internal yang mendukung terbentuknya anak yang cerdas baca, diabaikan. Mutlak nilainya, membaca dipengaruhi oleh tiga faktor; minat, motivasi, dan kebiasaan individu. Sehingga sangat penting upaya untuk membangun lingkungan yang mendukung ketiga hal tersebut sebelum bicara mengenai distribusi, kebijakan, atau perkara lain di luar si pembaca.

Saya dihadiahi satu bundel buku genre populer yang sedang booming di Indonesia. Meski saya suka baca, tetapi karena saya tidak punya minat terhadap bahan bacaan tersebut, saya tidak punya semacam dorongan atau motivasi untuk menyelesaikannya. Hingga sekarang, buku-buku tersebut masih terbungkus rapi di rumah. Apakah saya tidak mau membaca dikarenakan tidak ada bahan bacaan? Bukan! Saya tidak membaca, karena bahan bacaan yang tersedia tidak menarik dan saya anggap kurang memberi nilai manfaat buat saya, hingga saya tidak punya keinginan untuk membaca. Artinya, untuk membangun masyarakat yang cerdas membaca, yang pertama harus dilakukan adalah membangun minatnya terhadap bahan bacaan, bukan sebaliknya.

Minat jadi semacam dorongan untuk melakukan aktivitas baca. Bagaimana mungkin anak akan jadi pembaca yang cerdas, sedang ia sendiri tidak tertarik pada aktivitas membaca? Minat tidak bersifat spontan, butuh diarahkan dan dibiasakan. Awalnya, ketika sedang tidak melakukan apa-apa, Naya akan memilih untuk menonton, bermain handphone, atau ngomong-ngomong konyol. Lantas, kami coba mengenalkan aktivitas baru, yaitu membaca. Naya langsung tertarik? Tentu saja tidak. Tetapi ada semacam arahan dan instruksi terselubung yang tanpa disadari Naya menggiringnya untuk memilih, menyukai dan melakukan aktivitas baca tersebut secara kontinu, dibanding tiga aktivitas lainnya.

Akhirnya, Naya memiliki motivasi tersendiri yang menyebabkan ia lebih memilih membaca. Misal, terlihat di salah satu puisinya, Ketika Aku Membaca Buku. Naya membaca karena ia ingin pintar seperti bunda. Besarnya motivasi akan bisa dilihat dari kegiatan, kegigihan, dan ketekunan Naya dalam melakukan aktivitas baca tersebut.

Belakangan, Naya begitu suka pada karya-karya Charles Dickens. Ketertarikannya terhadap Dickens terbangun karena dongeng-dongeng penuh emosional yang dibangun Nermi terhadap Naya. Hingga kemudian, ia berkeinginan untuk membaca semua karya-karya Dickens. Keinginan yang besar tersebut, menuntut kegigihan dan kesabaran Naya untuk mulai mencari dan mengumpulkan buku-buku Dickens, baik yang berbahasa Indonesia maupun Inggris. Ia telah merampungkan Oliver Twist dalam satu hari, dan saat ini ia sedang menyelesaikan Great Expectation. Akhirnya, kebiasaan itu muncul dengan sendirinya, karena ia sudah memiliki motivasi tertentu; bahwa ia harus membaca semua karya Dickens.

Langkah awal dalam membangun ketertarikan dan minat anak bukan semata dengan memberikan buku pada anak. Itu bukan solusi. Kita sebagai orang tua, harus terlebih dahulu mengenal karakter anak, kesukaan anak, kebutuhan anak, hingga hal-hal yang menarik perhatian anak terhadap banyak hal. Bagaimana caranya? Tentu saja dengan komunikasi yang intens dan bersifat dua arah. Bukan komunikasi yang terjadi hanya ketika diliput atau diperhatikan oleh publik. Diskusi-diskusi kecil perlu dilakukan dan sifatnya kontinu. Bukan diskusi serius, tetapi semacam bermain ala Naya dan Nermi. Akan tetapi permasalahannya, terlalu banyak kebijakan di Indonesia yang melakukan sebaliknya. Pembiasaan aktivitas membaca tidak dibarengi dengan pemahaman tentang si pembaca, melainkan kepentingan di luar pembaca belaka.

Jadi, kembali pada persoalan di awal: bahan bacaan apa yang pantas bagi kanak-kanak? Ketika orang tua sudah mampu membangun atmosfer komunikasi yang baik dengan anak, maka mereka akan tahu, apa yang dibutuhkan dan pantas dibaca oleh anak-anak mereka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s