Dongeng Panjang Literasi Indonesia (Review)

Sumber : https://www.vemale.com/shopping-guide/112563-review-dongeng-panjang-literasi-indonesia-resep-membuat-jagat-raya.html

Apa yang terlintas di pikiran kita bila mendengar kata literasi? Mungkin kita akan berpikir kalau literasi hanya berhubungan dengan kegiatan membaca dan menulis saja. Tapi ternyata literasi lebih dari itu. Literasi tidak hanya terbatas pada kegiatan baca, tulis, dan hitung semata. Ada banyak aspek dalam literasi, antara lain juga mengkaji, menalar, bersikap kritis, menulis, dan perilaku komunikatif. Dongeng Panjang Literasi Indonesia, sehimpun esai karya Yona Primadesi ini bisa jadi referensi menarik untuk memahami dunia literasi.

Ada 14 esai di buku ini, antara lain Bukan Sekadar Baca Tulis, Bekal Awal Literasi untuk Anak, Kamu Kok Enggak Suka Baca?, Buku dan Cara Pandang yang Tabu, Anak Membaca Orangtua Memerdekakan, Praktik Imperialisme dalam Buku Anak, Menu Sastra dalam Literasi Anak, Kanak-Kanak Juga Butuh Menulis, Keluarga Basis Literasi, Membaca Keluarga yang Membaca, Indahnya Masa Kecil Kids Jaman Now!, ISBN dan Indikator Literasi, Berpiknik di Perpustakaan, dan Kembali Berbudaya bersama Indigenous Literacy.

Mengikuti esai-esai dalam buku yang ditulis dengan bahasa ringan dan mengalir, kita jadi mendapat banyak tambahan pengetahuan soal dunia literasi. Salah satu topik yang sangat mengena yang banyak dibahas dalam buku ini adalah soal pentingnya peran orangtua untuk membangun kebiasaan membaca pada anak. Bahkan bukan sekadar membaca, melainkan cara yang tepat untuk mengembangkan kemampuan dan daya pikir anak jadi lebih baik dengan membaca.

Kadang memang agak dilema ketika anak yang sudah dibebani dengan banyak tugas dan pekerjaan dari sekolah masih harus didorong untuk menyukai buku-buku dan lebih banyak membaca. Dari tulisan Yona, ada beberapa hal yang bisa dijadikan pegangan orangtua untuk membangun kebiasaan membaca pada anak. Tidak sekadar menyediakan buku, melainkan ikut berperan aktif mendampingi hingga menjadi teman diskusi anak untuk membahas berbagai hal yang sudah dibaca.

Ada banyak hal menarik yang dibahas dalam kumpulan esai ini. Salah satu yang cukup berkesan bagi saya adalah soal pentingnya mengenalkan sastra pada anak sejak dini. Dijelaskan seorang penulis bernama Phillips Pullman mengatakan bahwa anak membutuhkan sastra sama halnya seperti kebutuhan akan air dan udara. Ternyata mengenalkan anak pada sastra itu tidak cuma bisa membuatnya jadi terhibur. Lebih dari itu, perkembangan psikologis dan intelektual anak pun bisa lebih optimal ketika sudah diakrabkan dengan sastra sejak dini.

Menurut banyak hasil penelitian, sastra merupakan media paling jitu untuk membantu anak-anak memahami diri dan lingkungannya. Bukan hanya karena karya sastra berisi ide-ide yang kaya, imajinatif, dan cenderung eksploratif. Sastra juga membantu anak-anak untuk melihat dunia dengan perspektif yang berbeda sehingga mampu mengajak anak pada pemahaman yang lebih dalam memaknai hidup. Selain itu, kosakata yang digunakan dalam karya sastra sangat beragam, hingga mampu memperkaya dan membantu anak dalam perkembangan psikologis serta intelektualnya.
(hlm. 64)

Selama ini saya berpikir bahwa bacaan yang diberikan pada anak-anak itu harus benar-benar dibatasi sesuai usianya. Tapi saat membaca esai Anak Membaca Orangtua Memerdekakan, saya mendapat perspektif baru. Bahwa ternyata bisa kok memberikan variasi bacaan yang lebih banyak untuk anak. Tapi tentu saja memang harus selalu didampingi. Di sinilah sekali lagi peran orangtua sangatlah penting untuk membantu anak bisa memiliki banyak pengetahuan dan suka dengan kegiatan membaca.

Mengapa kita sibuk membatasi bacaan apa yang layak dikonsumsi oleh anak-anak, jika orangtua justru mampu membangun atmosfer yang menggembirakan dalam aktivitas membaca. Tidak ada buku yang membahayakan, jika dibaca dan dipahami secara benar. Cara membaca dan memahami buku secara benar tersebut bisa terwujud jika orangtua atau orang dewasa mengambil peran yang cukup besar di dalamnya, bukan hanya semacam suplier buku.
(hlm. 38)

Yona Primadesi memiliki seorang putri bernama Abinaya Ghina Jamela (Naya). Naya ini pun sudah memiliki bukunya sendiri. Judulnya Resep Membuat Jagat Raya yang berisi kumpulan puisi hasil tulisan dan karyanya sendiri. Yona ternyata sudah menganjurkan putrinya untuk menulis sejak berusia lima tahun. Seperti apa puisi-puisi karya Naya?

Karena itulah, saya mengatakan bahwa anak-anak harus menulis. Agar mereka memiliki sahabat imajiner yang akan terlihat lebih real untuk semua emosi yang mereka sembunyikan. Agar orang-orang dewasa atau ketika kelak kanak-kanak tersebut beranjak dewasa, mereka bisa belajar dari masa lalu yang sempat mereka tuliskan, masa lalu yang tak tersampaikan.

Bagi saya, menulis itu membebaskan, melegakan. Karenanya saya belajar untuk menganjurkan putri saya menulis, sejak ia masih berusia lima tahun. Bukan karena saya ingin ia jadi penulis dan dikenal, melainkan agar ia kelak bisa membebaskan dan merayakan masa lalunya yang mungkin terlupakan.
(hlm. 60)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s