Komunitas Pelangi Sastra Malang Mendedah Dongeng Panjang Literasi Indonesia

Sumber : http://m.jatimtimes.com/baca/167420/20180220/093149/komunitas-pelangi-sastra-malang-mendedah-dongeng-panjang-literasi-indonesia/

JATIMTIMES, MALANG – Beberapa tahun terakhir, gerakan literasi tumbuh marak di berbagai penjuru Indonesia. Sayangnya, masih banyak agenda kegiatan yang berhenti sebatas perayaan dan seremonial belaka. Akibatnya, masyarakat masih gagap menghadapi gempuran informasi di era literasi digital.

Isu tersebut menjadi salah satu pokok bahasan Bincang Buku Sehimpun Esai: Dongeng Panjang Literasi Indonesia karya Yona Primadesi. Kegiatan yang diselenggarakan komunitas Pelangi Sastra Malang (PSM) itu bertempat di Kafe Pustaka Universitas Negeri Malang (UM), kemarin (20/2/2018) malam.

Hadir sebagai pembicara Guru Besar Sastra UM Prof Djoko Saryono dengan moderator seniman teater sekaligus pegiat literasi Elyda K Rara.

Dalam uraiannya, Djoko Saryono menerangkan bahwa gelombang gerakan literasi ini muncul ketika masyarakat jenuh pada gerakan motivasi yang sempat booming. Dia menyayangkan bahwa saat ini gerakan literasi masih sebatas menjadi gaya hidup.

“Pekerjaan rumah bagi semua penggerak literasi, kalau bisa literasi bukan hanya gaya hidup tapi cara hidup,” ujar Djoko.

Akibat hanya sebatas gaya hidup, maka yang dipentingkan hanya tampilan. Bukan mengarah pada isi dan pengembangan pola pikir yang literat atau menjadikan literasi sebagai bingkai berpikir. Djoko mengistilahkan gerakan literasi yang bermunculan sebatas sebagai bedak, lipstik, dan perhiasan saja.

“Karena hanya di permukaan, masyarakat masih gagap membaca. Salah satu buktinya ya adanya sindikat Saracen yang memproduksi situs-situs hoax dan itu dibaca dan diikuti banyak orang,” paparnya.

Contoh lain yang disampaikan Djoko, di antaranya marak pembukaan taman baca masyarakat (TBM) di pelosok-pelosok dengan menghadirkan tokoh politik hingga pesohor. Namun setelah perayaan usai, keberadaan taman baca itu tidak lagi dikelola dan dimanfaatkan masyarakat.

“Buku ini mengajak agar literasi tidak hanya sebagai karnaval, tetapi mulai dari gaya hidup menjadi laku hidup dan bingkai berpikir literat. Terlebih di era teknologi, Instagram, website itu sudah masuk dalam literasi digital,” tegasnya.

Mengenai karyanya, Yona Primadesi mengungkapkan bahwa buku tersebut dimunculkan karena ingin menyentil dan mengingatkan kembali banyak yang gembar-gembor soal literasi tanpa menyertakan esensi. Sebab menurutnya, literasi bukan sekadar perkara baca, tulis, hitung, melainkan menyatukan banyak aspek yang dikembangkan ke tahap membaca, mengkaji, menalar, mengkritisi, menulis dan mengomunikasikan.

“Salah satu yang menurut saya sangat penting adalah mengembalikan budaya dan gerakan literasi ini ke tingkat paling kecil, yakni literasi di keluarga,” ujar Yona. Dia mencontohkan budaya literasi masyarakat Minangkabau, Sumatera Barat yang disebut manjujai. Manjujai merupakan bentuk komunikasi intens antara ibu dan anak. Dalam komunikasi tersebut ibu membimbing anak mengenal alam sekitarnya hingga sejarah dan filosofi hidup.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s