Membaca Dongeng Literasi Yona

Sumber : http://raamfest.com/membaca-dongeng-literasi-yona-primadesi/

Seorang budak bernama Androcles suatu ketika lari dari tuannya dan menuju hutan. Selagi berkelana di tengah kelebatan hutan, ia tak sengaja bertemu seekor singa yang sedang berbaring sambil mengeluh dan mengeram. Awalnya Androcles ingin lari, tapi karena si singa tampak tak ingin menerkamnya, ia pun datang mendekat.

Sebuah dongeng, folklor atau cerita rakyat, biasanya ditulis seperti satu paragraf awal tulisan ini. Namun, buku yang ditulis Yona Primadesi setebal 110 halaman dan berukuran 12 x 19 cm, tidak berisi seperti paragraf awal buku “Kumpulan Fabel” yang ditulis Aesop. Tidak pula seperti buku “Si Kecil Filip Pergi ke Sekolah – Enam Puluh Dongeng Anak Rusia” yang ditulis Leo Tolstoy. Wahai para pembaca, selamat datang di halaman-halaman buku sehimpun esai “Dongeng Panjang Literasi Indonesia”!

Saya kira, esai-esai yang ditulis Yona Primadesi adalah soal tanggapan, kegelisahan, dan pendapat dirinya sebagai individu, orang tua, praktisi, akademisi, dan calon doktor dalam memandang fenomena, konsep dan gerakan literasi yang berpendar seperti kembang api di Indonesia. Harapan tentang fenomena, konsep dan gerakan literasi yang tersurat dalam bukunya tentu saja tidak menyala sekejap, tetapi terus hidup sepanjang hayat.

Setahun terakhir, saya bersama kawan berpikir ulang soal gerakan literasi yang riuh-rendah akhir-akhir ini. Gerakan literasi keluarga, sekolah, dan masyarakat digencarkan semua pihak setelah berbagai penelitian memosisikan Indonesia di titik nadir. Aktivitas komunitas-komunitas literasi dalam mendekatkan buku dengan masyarakat sangat bergelombang. Akan tetapi, ada hal yang luput dari gerakan-gerakan tersebut, yaitu benar-benar membaca dan memahami makna yang terkandung di dalamnya. Sehingga, masyarakat yang terbangun budaya bacanya dapat memberdayakan diri dalam kehidupan sehari-hari.

Barangkali, fase membumikan literasi di tanah nusantara tengah dalam suasana euforia. Semacam pesta yang riuh dan hura-hura, tetapi perlu dilewati juga. Sebab setelah pesta selesai, suasana hening, dan letih. Setelah itu, ruang-ruang permenungan akan terbangun dan mulai berpikir jernih. Semoga pesta-pesta literasi di negri ini segera selesai, bangkit dan lari agar sejajar dengan bangsa-bangsa lain.

Berdasarkan studi “Most Littered Nation In the World” yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Indonesia persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Padahal, dari segi penilaian infrastuktur untuk mendukung membaca peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa (Sumber: kompas.com).

Kenyataannya, lembaga-lembaga dunia (UNESCO, PISA, PIRLS, dan lainnya) menilai kemampuan masyarakat Indonesia dalam berliterasi masih rendah. Hal tersebut memang benar, lihat saja anak-anak, remaja, orang tua, dan guru memperlakukan buku dalam kehidupan sehari-harinya. Lalu-lintas hidup yang sering saya lewati pun, sangat langka, dan hampir tidak ada yang memegang buku, apalagi membacanya. Kecuali anak-anak sekolah dasar di tempat saya mengajar atau mahasiswa yang mengerjakan tugas makalah. Itu pun bukan untuk membaca atas nama kebutuhan seperti minum dan makan. Akan tetapi, hanya memenuhi syarat dalam melaksanakan kewajiban sebagai pelajar dan mahasiswa terhadap guru dan dosen masing-masing.

Memang benar bahwa definisi literasi yang digagas UNESCO, lebih dari sekadar membaca dan menulis yang mencakup bagaimana seseorang berkomunikasi dalam masyarakat. Literasi bermakna praktik dan hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya. Senada dengan Gerakan Literasi Nasional yang dicanangkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, bahwa enam literasi dasar mencakup: literasi baca tulis hitung, literasi numerasi, literasi sains, literasi finansial, literasi digital, dan literasi budaya dan kewargaan.

Yona memutuskan pilihan bahan proposal untuk disertasi yang diganti dengan permasalahan literasi, terutama anak-anak, selama hampir tiga tahun. Pembahasan awal soal literasi yang bukan sekadar baca-tulis, bermula ketika mendirikan Rumah Kreatif Naya di Jatinangor – Jawa Barat.

Bagi Yona, literasi itu luas sebagaimana Deklarasi Praha (UNESCO, 2003), yang kemudian merumuskan sebuah tatanan budaya literasi dunia; yang lebih dikenal dengan istilah literasi informasi (Information Literacy). Literasi informasi tersebut secara umum meliputi empat tahapan yakni, literasi dasar (Basic Literacy); kemampuan meneliti dengan menggunakan referensi (Library Literacy); kemampuan untuk menggunakan media informasi (Media Literacy); literasi teknologi (Technology Literacy); dan terakhir kemampuan untuk mengapresiasi grafis dan teks visual (Visual Literacy) – (Hal 3).

Ia menegaskan jika literasi kemudian ditafsirkan semata perkara membaca dan menulis tanpa dilengkapi dengan kompetensi mengelola, menganalisis, mengemas kembali dan membagikan informasi, maka individu akan tergusur dari zamannya. Sehingga, ia menyodorkan pertanyaan, “Jadi, kegiatan literasi seperti apakah yang akan kita kembangkan?” pada halaman tujuh.

Teknik emerging literacy menurut Yona Primadesi, menjadi salah alternatif dalam pengembangan literasi yang berbasis kearifan lokal. Indonesia secara geografis tidak seperti negara-negara Amerika atau Eropa yang terbagi-bagi. Jangkauan dalam penyebaran buku butuh perjuangan menempuh wilayah-wilayah Timur, misalnya. Jarak sejarah Indonesia yang ratusan tahun dengan negara-negara tersebut dalam hal kecakapan membaca semacam dihadapkan pada jurang yang jauh dan curam. Hal lain yang penting dibahas adalah soal persepsi literasi yang bukan sekadar baca-tulis-hitung. Akan tetapi, aspek literasi baca-tulis juga harus dikmbangkan menjadi baca-kaji-hitung-nalar-kritis-tulis-dan komunikatif. Pendekatan Emerging Literacy lebih ditarik pada kegiatan mengenalkan anak pada baca-tulis-hitung. Sehingga, les privat agar anak-anak memiliki kemampuan membaca menjamur. Bahkan, taman kanak-kanak telah mengajarkan kemampuan membaca karena dorongan syarat masuk sekolah dasar dapat terpenuhi.

Kita tengah membangun pondasi rapuh budaya literasi. Bagaimana tidak, itu sama saja seperti memberi obat pada anak dan meminta mereka untuk mengonsumsinya tanpa memberi arahan terlebih dahulu banyak hal tentang penyakit dan bagaimana cara mengatasi penyakit tersebut. Anak-anak tentu bisa keracunan obat literasi, bukan? – (Hal 7).

Masyarakat Minangkabau, Sumatera Barat, misalnya. Mereka mengenal tradisi yang bernama manjujai, yaitu bentuk komunikasi yang terjadi antara ibu dan anak secara intens (Hal 12). Artinya, anak-anak sejak usia dini tidak dipaksa untuk membaca, tetapi dirangsang terlebih dahulu melalui pendekatan dongeng dengan cara dilanggamkan atau berkisah. Bangsa ini memang tidak dapat dibandingkan dengan negara-negara lain. Negri ini memiliki keunikan tersendiri, baik secara geografis, budaya, tradisi, dan kekayaan sumberdaya alamnya.

Sebelum benar-benar mengajak orang lain untuk gemar membaca, sebaiknya bertanya kepada diri sendiri. “Apakah saya suka membaca?” pertanyaan tersebut dilontarkan Yona juga, “Jadi bagaimana dengan Anda?”.

Mencari celah ketidakgemaran masyarakat Indonesia terhadap bahan bacaan (buku) perlu penelitian mendalam dan panjang. Pengaruh sejarah dan budaya bangsa Indonesia sangat berpengaruh besar terhadap kemampuan literasi ini.

Saya selalu meluangkan waktu tiga jam sehari untuk membaca, kata Alm. M. Dahar, seorang imam masjid yang tutup usia 97 tahun. Menurut Yona, ia tidak pikun, dapat diajak berdiskusi, lantang, intonasi jelas, dan pemaparannya sangat logis. Paling tidak, sebuah bukti nyata dalam kehidupan sang penulis bahwa membaca dapat menjaga ingatan sangat kuat. Budaya baca memang tidak tumbuh begitu saja, ia harus dipupuk dengan pembiasaan. Sebagaimana yang disiram pada kebiasaan Naya, anaknya. Yona mengaku belum gemar membaca ketika seusia anaknya. Hal tersebut memengaruhi dorongan pribadinya untuk kemudian menekuni kembali kebiasaan membaca. Itu pun setelah ia sadar untuk kepentingan penelitian atau bahan ajar, menjawab pertanyaan sulit dari Naya; malu pada kebiasaan anaknya sendiri. Kebernilaian buku semakin dikokohkan oleh hampir semua sistem religi di muka bumi dengan menjadikan buku sebagai media penyampaian wahyu (Hal 18).

Buku merupakan salah sumber informasi di era digital seperti sekarang. Kesesuaian isi buku untuk dikonsumsi anak-anak perlu didampingi orang tua. Hal ini penting dilaksanakan karena akan berdampak buruk ketika anak-anak tidak mendapatkan penjelasan hal-hal yang belum laik atau belum dimengerti. Plato membayangkan, ketika aktivitas membaca itu terjadi dan penulis tidak berada bersisian dengan teks dan pembacanya, maka interpretasi bebas tidak bisa dihindari. Penulis tidak akan berkomunikasi dengan khalayak yang mempertanyakan atau menolak pesan tersebut (Hal 25). Yona menangguhkan permintaan Naya yang masih anak-anak untuk membaca buku Sapiens atau The Selfish Genes karena belum yakin kelayakannya.

Apa pun bukunya dapat dibaca oleh anak-anak, hanya saja harus didampingi orang tua agar dapat menjelaskan hal-hal yang laik dan belum laik. Sebagaimana dijelaskan Yona bahwa peran orang tua dalam membangun kemampuan anak untuk membangun tandon pengetahuannya. Hal ini penting untuk membantu anak-anak menjadi pembaca yang baik dan benar. Kita belajar untuk mendampingi mereka menjadi merdeka lewat buku (Hal 39).

Anak-anak juga harus didekatkan, diberitahu, dan dikenalkan pada buku-buku baik. Pertanyaannya, buku seperti apa buku baik untuk anak-anak? Menurut Yona, buku anak yang diberi label ‘baik’ harus mengandung kenikmatan dan kesenangan dalam membaca, karakter yang mudah diingat, dan situasi serta cerita-cerita yang mengandung nilai kemanusiaan atau hal-hal yang bernilai kehidupan. Secara tampilan, buku anak yang dilabeli baik, haruslah genuine, imajinatif, memiliki gaya bahasa yang indah, cerita dengan dinamika serta alur cepat, menawarkan petualangan, juga tampilan yang menarik dan disukai oleh anak-anak (Hal 41).

Saya sependapat dengan penulis bahwa anak-anak seolah asing terhadap tokoh-tokoh sastra. Mengenal W. S. Rendra, Ajip Rosidi, Iwan Simatupang, Ahmad Tohari, bahkan Pramoedya Ananta Toer yang memang perlu membaca buku-bukunya. Berbeda dengan penerbit luar yang berlomba mengadaptasi dan mengemas ulang karya tersebut menjadi bentuk yang lebih ramah anak. Mereka memperkenalkan keindahan Moby DickThe Little PrinceAnne and Green GablesHugo Carbet, hingga The Hobbit. Hendaknya sastra dan orang-orang di balik sebuah karya sastra, bagi anak di Indonesia bukan semacam lukisan Monalisa di museum Louvre, yang untuk memandanginya pun sulit apalagi bersentuhan. Sastra merupakan media jitu untuk meningkatkan kemampuan literasi anak (Hal 52).

Menulis itu membebaskan dan melegakan, oleh karenanya Yona menganjurkan Naya menulis sejak berusia lima tahun. Bukan karena apa-apa, karena anaknya dapat membebaskan dan merayakan masa lalunya yang mungkin terlupakan.

Hana nguni hana mangke
Tan hana nguni tan hana mangke
Aya ma beuheula aya nu ayeuna
Hanteu ma beuheula
Hanteu tu ayeuna …

Ada dahulu ada sekarang

Tak ada dahulu tak akan ada sekarang

Ada masa lalu ada masa kini

Bila tidak ada masa lalu tidak akan ada sekarang … 

Barangkali ketika seseorang menulis, merekam sebuah masa yang akan menjadi masa lalu. Sedang tulisan-tulisannya akan dibaca siapa pun di masa kini dan yang akan datang. Amanat Galunggung di atas telah jelas mengingatkan masyarakat yang hidup hari ini tentang masa lalu. Melalui tulisan pulalah saya juga mengetahui tentang amanat Galunggung.

Yona merasa khawatir dengan anak-anak hari ini yang difasilitasi berbagai kemudahan dan instan. Sebab mental mereka akan memengaruhi masa depannya sendiri. Masa kecil anak-anak dahaulu yang sekarang telah menjadi ayah dan ibu sangat berbeda perlakuan dan zamannya. Tantangan hari ini adalah menggerakkan tubuh anak-anak yang cenderung diam karena kecanggihan teknologi informasi. Bagaimana agar mereka tetap tumbuh-kembang dengan metabolisme tubuhnya bekerja normal.

Eksplorasi teater dalam kemampuan literasi anak pun menjadi penting karena dalam prosesnya terdapat olah tubuh, olah vokal, olah rasa, dan olah intelektualitas. Multiolah tersebut dapat mengenal dan menggali diri anak-anak dan sekitar. Aktivitas tersebut juga mengasah kepekaan seluruh indera mereka. Sebab sejarah literasi sebelum wahyu pertama turun di Gua Hira pun karena kepekaan Sang Nabi SAW yang membaca keadaan bangsa pagan saat itu.

Indonesia masih tertinggal dalam publikasi buku dengan negara tetangga, Malaysia. Persoalan tersebut hadir karena ternyata tidak setiap penerbit tertib serah terima karya kepada Perpusnas.  Oleh sebab itu, bangsa ini dapat dikatakan literat jika semua pihak bertanggung jawab.

Perpustakaan yang menarik perhatian masyarakat di Indonesia masih jarang. Ada semacam kekakuan jika datang ke sebuah perpustakaan. Hal ini masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah untuk terus berinovasi agar masyarakat sering datang ke perpustakaan.

Persoalan praktik literasi di masyarakat, Yona mengakhiri esai dalam bukunya dengan mengajak pembaca untuk ‘berbudaya bersama indigenous literacy’. Menjadi kuno bukan berarti masuk pada dimensi jahiliyah atau membuka pintu rumah masa lalu. Anak-anak, remaja, dan orang tua hari ini adalah sebuah masyarakat yang hidup pada abad 21. Jarak budaya dan tradisinya telah jauh, tetapi sepantasnya bertugas untuk merawat dan menjaga. Kenyataannya, masyarakat dahulu lebih menjaga alam ketimbang sekarang. Kenyataannya, petuah-petuah pada prasasti telah mewanti-wanti masyarakat (kita) terhadap sebuah zaman yang hampir mati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s