Membangun Ketertarikan Literasi Lewat Lokalitas

Sumber : https://bonx.wordpress.com/2018/03/26/membangun-ketertarikan-literasi-lewat-lokalitas/#more-2228

Judul Buku                 : Dongeng Panjang Literasi Indonesia
Jenis                            : Kumpulan Esai
Penulis                        : Yona Primadesi
Penerbit                      : Kabarita
Cetakan                      : Pertama, Januari 2018
Tebal                           : x + 110 halaman
ISBN                             : 978-602-610-627-8
Peresensi                     : Stebby Julionatan *)

 

Literasi bukan hanya perkara baca, tulis hitung. Sebab dalam prakteknya literasi menyangkut banyak aspek. Baca tulis hanya salah satunya, yang kemudian mesti dikembangkan lagi menjadi baca, kaji, hitung, nalar, kritis, tulis dan komunikatif.

37926073

Saya rasa, itulah penekanan yang ingin Yona Primadesi dalam Dongeng Panjang Literasi Indonesia. Ya, meski kecil, tipis, bagi saya buku ini sarat gizi. Mirip tablet multivitamin 500mg. Bikin capek-capek dan pegal (terhadap permasalahan literasi Indonesia) langsung ces pleng, ilang.

Buku setebal 110 halaman yang berisi 14 esai ini, sukses merangkum sejarah perjalanan literasi bangsa kita (baca: Indonesia). Mulai dari tradisi dongeng, gegap gempita teks konvensional –yang semula dibawa oleh seorang misionaris Belanda ke Indonesia, lalu ke masalah pengentasan buta huruf di zaman Orba, serangan teks-teks virtual, dan kini… sampai dengan upaya pemerintah dan beberapa pegiat literasi yang mencoba untuk mengembalikan “jalan sunyi” seorang pembelajar, yakni membaca.

Apakah bisa? Apakah ada yang salah dengan budaya mendongeng bangsa kita yang di kampung halaman Yona dinamakan manjujai?

Tak seperti ibu dari Abinaya Ghina Jamela –penulis cilik yang sukses menelurkan Resep Membuat Jagat Raya sebagai buku kumpulan puisi pertamanya,  saya tak punya anak. Namun pergulatan saya bersama 5 siswi saya di kelas sastra SDN Tisnonegran 1, mengantar saya pada jejak permasalahan yang sama: Bagaimanakah cara saya mengajar mereka? Bagaimana cara saya “memaksa” mereka untuk mencintai literasi –yang notabene menurut Yona tak hanya baca tulis saja, tapi harus ada pengkajian, perhitungan, penalaran, daya kritis, dan berujung pada keterbukaan komunikasi?

Dongeng Panjang Literasi Indonesia menjawabnya:

Menumbuhkan minat baca terhadap anak tidak harus dimulai dengan “memperlihatkan” buku. Ketertarikan merupakahal utama. Bagaimana mungkin menyukai apalagi mencintai sesuatu jika tertarik pun tidak? Ketertarikan yang dibangun di sini bukan ketertarikan pada media (buku) tetapi ketertarikan terhadap topik (materi). Hal pertama yang harus dilakukan (…) adalah komunikasi dua arah lewat kegiatan story telling, bukan serta merta memperkenalkan wujud bernama buku.

Mendongeng atau bercerita tidak melulu memosisikan anak sebatas pendengar dan penikmat, pun mengikutsertakan mereka secara aktif. Mendongeng dibarengi dengan berbagai bentuk permainan: tebak suara, tebak perilaku, permainan sebab akibat, lomba bermain metafora, misalnya, secara tidak langsung merangsang imajinasi dan kemampuan intelektual anak dalam memahami dan menganalisa teks verbal dan non verbal. Tahap ini sangat mempertimbangkan sifat kanak-kanak yang gandrung akan bermain. (hal. 82)

Ya, saya lega. Pertanyaan kunci yang saya selama ini telah menghantui saya terjawab. Pertanyaan tentang apakah yang selama ini dilakukan ibu-ibu kita salah? Ketika mereka tidak membaca buku, tapi setiap hari menyusupkan dongeng di benak kita secara lisan –bukan tertulis seperti yang selama ini dipersepsikan oleh masyarakat?

Perempuan kelahiran Padang, Sumatera Barat ini menyampaikan bahwa tradisi manjujai atau mendongeng ini tidaklah salah. Malah sangat penting dalam tumbuh kembang anak. Tapi masalah… yang saya, Yona ataupun Anda rasakan, problem mulai muncul ketika kita tak lagi kanak-kanak. Tulis Yona:

Tradisi kita (bangsa Indonesia) tidak mendukung hal itu. Masyarakat kita gemar bergotong-royong, berembuk, berdiskusi –mengenai banyak hal, bahkan perkara cicak yang terjepit di kolong tempat tidur sekali pun. Sehingga bukan perkara mudahdan instan untuk menumbuhkan tradisi membaca masyarakat. (hal. 21)

Ketika memasuki masa peralihan tersebut proses pembelajaran literasi haruslah diubah. Meski sedikit dipaksa. Dan hal tersebut tentunya membutuhkan usaha, kerja keras dan ketekunan. Di masa itu, Yona menulis:

Orang dewasa dituntut untuk lebih meluangkan waktunya untuk bermain bersama anak-anak. Kejelian dan sifat tanggap orang dewasa melihat kemampuan anak sangat berperan penting. Kepekaan terhadap mereka adalah kunci utama. (hal 83)

Membaca pada hakikatnya adalah capaian budaya. Tradisi membaca tidak hadir tiba-tiba. Budaya membaca buku bagi masyarakat Eropa yang kita saksikan sekarang ini tidaklah muncul tiba-tiba. Selain dipengaruhi oleh penemuan teknologi buku dan media penyebaran ideologi, seperti yang disampaikan oleh Yona, sangat dipengaruhi pula oleh sistem religi yang ada, yang menjadikan buku sebagai media penyampaian dan penyebaran wahyu. Ya, dengan kata lain, saat Dunia Barat sudah hiruk-pikuk dengan buku, kita masih sibuk terlibat perang saudara untuk perluasan daerah kekuasaan kerajaan-kerajaan di Nusantara.

Saya lantas menyimpulkan. Buku ini, Dongeng Panjang Literasi Indonesia, tak bisa terlepas dari buku Naya (nama panggilan Abinaya). Ya, dari mana Naya bisa mendapatkan metafor-metafor yang ‘ajaib’ untuk buku kumpulan puisinya, Resep Membuat Jagat Raya, kalau bukan dari keterlibatan Yona, ibunya. Naya dan kesuksesan buku puisinya (yang masuk dalam daftar nominasi Kusala Sastra Khatulistiwa 2017) adalah buah penelusuran dan pemikiran Yona terhadap literasi Indonesia. Saya pun, kembali (bahkan sangat), bersetuju dengan ungkapan yang mengatakan, “Jika anak yang pintar, pasti terlahir dari ibu yang cerdas.” Dan tautan hubungan Yona dan Naya inilah salah satu buktinya.

Ya, jujur saja, lewat dongengnya ini, Yona banyak memberi saya pencerahan. Semisal, lewat buku ini saya pun akhirnya paham dengan bagaimana sistem penomoran pada ISBN, apa nama buku anak yang paling awal lahir di muka bumi ini, serta tentang indigenous literasi. Bahkan, kalau boleh dikatakan mewakili kaum birokrat, lewat buku ini saya juga diajak merenung tentang bagaimana seharusnya peran pemerintah, khususnya perpustakaan daerah untuk meningkatkan literasi masyarakat. Two thumbs up, Yona! Buku ini (bahkan) membuat saya kembali teringat buku Prof. Rheinald Kasali yang pernah saya baca sebelumnya, Strawberry Generation. Tentang kegelisahannya terhadap generasi alfa bangsa ini, yang mau tidak mau, mengharuskan kita semua untuk mengambil sikap dan berubah. Ke arah yang lebih baik tentunya. Kalau Prof. Kasali berbicara di mindset bangsa, sedang Yona ke arah literasinya.

Lalu, apakah ada yang tidak menarik atau yang ‘kurang’ dengan buku ini? Mmmm… sepanjang yang saya baca sih karena ketidaksesuaian dengan kebakuan. Seperti “zaman” yang tetap ditulis “jaman” atau “aktivitas” yang tetap ditulis “aktifitas”. Tapi bagi saya hal itu tak menjadi masalah. Mungkin penulis memang punya alasan khusus kenapa hal tersebut tetap diberlakukan bagi ragam tulisan yang ada bukunya.

Di akhir, saya rasa, meski cocok untuk semua kalangan, buku kecil karangan Yona Primadesi ini sangatlah cocok untuk ibu-ibu yang ingin anaknya cerdas seperti Naya. Ingin anaknya suka membaca. Bagaimana membangun ketertarikan, bukan hanya kepada buku, tapi juga materi yang ada dalam buku tersebut, demikianlah dongeng Yona.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s