Puisi-puisi Yona Primadesi, Harian Media Indonesia, 5 November 2017

SAKSI-SAKSI TIMOR-TIMUR, 1975 ———————————————————— ———————————————————— MEMOAR KECIL MAUKUNDA DOMINGGUS   Lepas dari rajaman maut bapakmu tinggal mendekam bagai siput dalam cangkang, masih terlintas di hatimu menoleh dari bahu para pengungsi, Ailora tersisa kekalutan.   Jauh ke pedalaman hutan mencari batu-batu persembunyian atau pohon-pohon tua pelindung, letih ambil kendali tubuhmu, pejam sebentar masuk ke mimpi di…

Puisi-puisi Yona Primadesi, Harian Kompas, 9 Desember 2017

TRAGEDI KAMPUNG JANDA, 1983   Di Krakas, langit semendung hatimu saat suamimu dihajar peluru, dan ayahmu terperangkap nyala api.   Sementara udara Agustus satu-satunya pakaian perkabungan ketika pijar merah meletup dari kepala   dan dada anak laki-lakimu, atau popor senjata meninggalkan surih di antara pahamu, jadi jalur   sunyi monumen tanpa pemuja. Tapi di tempat…

Puisi di harian Indopos, 28 Juni 2014

Kacamata Tak ada sesiapa hanya kaca dan mata sejoli yang saling jaga: lamur dan akurat. Dan aku si lamur yang uzur kadang pada jam aku mendengkur kata-kata merajuk ingin diterka seperti petak-umpet yang jenaka. Tentu aku suka permainan ini keseksamaan yang sarat naluri terlebih ketika nyaris pada premis atau ganjil yang terus menggubris. Dan si…

Puisi di harian Bali Pos, 19 April 2015

Anak Dara Bagai kembang api yang dibariskan di rangkum rambutmu arakan yang menandu bau tungku dan abu. Sementara ruang pada ujung sangguluang menjuntai di punggung-punggung perempuan. Halaman di antara lampu-lampu membias dalam rampai pantun kata dan lantun yang pupuh. Langkah kaki menjelang pintu serupa talempong pacik memainkan nada minimal dan puput dari bibir si tukang…

Puisi di harian Media Indonesia, Minggu 24 Mei 2015

Prabhasa  Aku tengah dimabuk cinta, Wasistha, ketika kau kutuk aku menjadi lumpur di dasar sungai. Nandini hanya gelang kaki bingkisan wasu untuk sejumput rekah di merah wajah penghias kekanakan; ditaburi kidung penuh puja juga kuncup-kuncup rupa warna. Tapi kau benamkan aku ke dalam Gangga antara wangi dupa, ketuaan yang mengoceh seperti gembala pada ternak, juga karma…

Lagu Mei

Pada pagi pertama kami susun barisan kata demi kata di mulut nasib sendiri-sendiri. Bergerombol kami menuju suatu medan bertolak atas upah dan hakikat. Seperti sebentang suara berhujah dari dada yang terpancang sembilu. Ini adalah nyanyian esok hari yang siuman dari kolong mimpi. Tempat perut selengang lubang dan otot-otot yang terjerang. Di ambang jendela mata generasi…